oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi unusia.ac.id)

Hari Batik jatuh pada tanggal 2 Oktober bertepatan saat UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada 2009. Pada Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 2009 ditegaskan bahwa batik dapat meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia di forum internasional serta menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia. Keputusan Presiden (Kepres) dikeluarkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap upaya perlindungan dan pengembangan batik Indonesia.

Jauh sebelum diakui dunia, Batik Indonesia sudah dikenalkan ke punjuru dunia. Kota-kota wisata, semacam Yogjakarta, Denpasar adalah pintu masuk mengenalkan batik. Sedangkan secara formal, Presiden Soeharto cukup gencar mengenalkan batik ke masyarakat dunia. Misalnya saat Nelson Mandela datang ke Indonesia pada akhir Oktober 1990 sebagai wakil ketua organisasi Kongres Nasional Afrika, Presiden Soeharto menghadiahinya batik. Mandela pun tak segan-segan mengenakan batik di acara-acara resminya.

Batik itu nyata sedangkan citra itu abstrak (intangible). Indonesia itu berwujud namun citra hanya ada dalam pikiran. Meski demikian keberadaan citra dapat dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk. Seperti respons baik, positif, maupun negatif yang datang dari publik (Trimanah, 2012). Maka upaya mengembangkan batik untuk meningkatkan citra positif dan martabat bangsa Indonesia di forum Internasional itu secara otomatis terjadi—meminjam istilah Erikson— integrasi “dunia luar” dan ”dunia dalam” (Thomas H. Erikson, 1989).

Batik saat ini telah memberikan impresi yang tepat atas masyarakat Indonesia yang ramah, bersahabat, cinta kedamaian dan toleran. Citra positif masyarakat Indonesia tersebut muncul karena pengalaman, kepercayaan, perasaan dan pengetahuan. Jadilah Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia yang konsen membangun peradaban yang menjunjung tinggi kemanusiaan.

Lalu apakah hal ini cukup? Menurut saya batik tidak hanya sekedar citra positif bangsa Indonesia. Batik itu bagian dari infrastruktur sosial budaya dan keilmuan seni warisan leluhur. Meskipun suatu kelompok mempunyai spesifikasi infrastruktur sosial budaya yang berbeda dengan kelompok lain (Hogg A. M., 2003) bukan berarti batik tidak bisa diterima oleh masyarakat dunia. Batik yang telah mencitrakan positif masyarakat Indonesia dapat mendorong terjadinya proses penyadaran tentang pentingnya hidup yang bersahabat, ramah dan toleran. Nelson Mandela adalah Duta Batik yang sempurna. Citra positif dirinya identik dengan batik yang mencitrakan positif masyarakat Indonesia. Maka Nelson Mandela dan batik tidak lagi sebatas citra positif suatu masyarakat namun ia telah menjadi identitas sebuah kelompok masyarakat dunia yang bersahabat, ramah dan toleran.

Batik telah menjadi identitas indonesia. Identitas yang tradisional. Maksud saya, identitas yang tidak memerlukan proses konstruksi identitas baru yang penuh resiko. Batik sebagai identitas Indonesia itu sudah pasti dan tidak lagi memerlukan gagasan yang tidak mempunyai ketidakpastian (Giddens, 2003). Batik mampu mewakili masyarakat Indonesia yang unik, dimana kepribadiannya dan perannya telah dibangun secara berangsur-angsur sejak masa lampau (Erikson, 1989).

Saya optimis suatu saat nanti Batik menjadi identitas masyarakat dunia. Batik sebagai identitas tidak bergantung pada kuantitas namun ia melekat pada setiap orang baik yang saat ini telah mendominasi masyarakat dunia dibanding masyarakat yang berperilaku buruk.