Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Pagi hari tampak seorang kakek naik Kereta Rel Listrik (KRL) dari Stasiun Juanda menuju Jakarta Kota. Sang kakek langsung duduk di tempat prioritas. Di sebelahnya telah duduk anak muda yang menyapanya ramah.

“Lho, gigimu sudah ompong, kenapa? Sapa sang Kakek tiba-tiba yang kontan mengejutkan anak muda itu. Tak berhenti di situ, sang Kakek bertaushiah tentang kesehatan. Menteri Kesehatan ia kritik karena sibuk memperbanyak dokter. Bu Kasur pun ia kritik karena menyarankan gosok gigi saat baru bangun tidur. “Gosok gigi itu sehabis makan, bukan setelah bangun tidur.” Katanya bersemangat.

Itulah suasana dan kondisi Kereta Listrik yang makin membaik. Sebelum naik, kita bisa menengok informasi di media sosial tentang KRL yang selalu ramai oleh komunitas KRL. Menunggu kedatangan KRL sekitar lima menit, KRL datang dan kita bisa meluncur sesuai tujuan. Stasiun yang bersih, seperti di Cikini, kita menelusuri koridor, turun melewati eskalator dan sesampai di trotoar disambut iringan musik dari musisi jalanan yang berada di seberang jalan.

Kondisi KRL saat ini memang telah berubah jauh lebih baik dibanding era tahun 2000-an. Lebih tertata, tertib, bersih, nyaman dan aman. Pendek kata, lebih manusiawi. Saat ini saya makin akrab dengan KRL. Pagi hari dari rumah di Depok, meeting di seputaran Kalibata, berlanjut siang bertemu kolega di kawasan Salemba, kemudian malam hari kongkow di daerah Tebet, kembali ke Depok, cukup dengan moda transportasi KRL. Kalaupun perlu peningkatan, menurut saya, AC lebih perlu lebih dingin lagi.

Kenyamanan transportasi massal KRL ini buah Pemerintahan era reformasi. Pemerintahan Jokowi-JK sebagai bagian dari anak reformasi terus melaju kencang di bidang infrastruktur, terutama transportasi publik. Melepaskan diri dari perdebatan problem anggaran, Pemerintah telah membangun jalan tol darat dan laut, terminal, stasiun, bendungan, pelabuhan, bandara, menambah dan membuka akses jalan daerah yang terisolasi, dan lainnya. Pemerintah menyadari bahwa Indonesia saat ini jauh tertinggal dari negara lain dalam pembangunan dan pelayanan transportasi massal, terutama di kawasan perkotaan dan antar-kota. Untuk itu, dibangun transportasi massal, baik berupa MRT, LRT, dan yang lain-lainnya. Perlu ada keberanian mengejar ketertinggalan itu (Kompas, 2017). Pada 2018 misalnya, Pemerintah mulai membangun kereta api semi cepat Jakarta-Surabaya dengan anggaran Enam Triliun Rupiah.

Moda transportasi massal memang kebutuhan vital masyarakat. Perlu disadari bahwa membangun sarana transportasi tidak semata-mata memberikan kelancaran perjalanan. Seoarang ekspatriat dari Amerika Serikat yang bekerja di bidang eksport import di kota Klaten, ia optimalkan waktu perjalanan dari Bandara Adi Soemarmo hingga Klaten dengan berdiskusi dan membaca dokumen yang bertumpuk sehingga sesampai di Klaten, meja kerjanya telah bersih dari berkas-berkas.

Realitasnya memang membangun sarana transportasi era kini tidak berdiri sendiri. Di Stasiun Manggarai, pengguna KRL tampak tidak langsung melanjutkan perjalanan. Mereka masih menyempatkan diri untuk berinteraksi sosial. Perjalanan seseorang itu membutuhkan waktu, ruang, gerak dan sikap tubuh. Keterlibatan orang lain secara massal di KRL meniscayakan seseorang tunduk pada aturan tertentu. Pada proses inilah terjadi interaksi sosial di moda transportasi massal. Meski dalam level tertentu interaksinya menggunakan komunikasi non verbal, para penumpang KRL melakukannya secara sadar (Edward T. Hall, 1982).

Di sinilah pentingnya infrastruktur transportasi yang memadai dan layak. Sarana dan prasarana transportasi dibangun tidak hanya untuk memfasilitasi pergerakan manusia secara massal. Ia juga dibangun untuk memfasilitasi proses interaksi individu pengguna transportasi massal.

Menyenangkan melihat Pemerintah terus meningkatkan kualitas sarana transportasi. Sisi lain yang perlu ditingkatkan adalah menjadikan pos-pos pemberhentian moda transportasi sebagai media interaksi sosial yang nyaman. Misalnya, masa tunggu seorang penumpang KRL di Stasiun keberangkatan selama lima menit, jarak tempuh selama tiga puluh menit, mengambil waktu istirahat di stasiun kedatangan selama lima menit, total terdapat empat puluh menit waktu terpakai. Rentang waktu ini sangat membantu meningkatkan produktifitas kerja, merekatkan kohesi sosial, merawat rasa komunitas sehingga timbul keyakinan bersama untuk mencapai komitmen dalam komunitas (Mc Millan, 1986). Ah, saya harus ke Kota Tua, KRL sudah menanti.