Bagian Tiga

Oleh Muhammad Aunul Abied Shah
(Mahasiswa Universitas al-Azhar, Mesir)

KH Said Aqil Siroj menyambut Grand Syaikh al-Azhar al-Thayyeb dengan hangat. Suasananya santai penuh kekeluargaan membuat Syaikh Thayyeb tak seperti biasanya membuka diri. Beliau bercerita bahwa sejak kecil hidup di keluarga yang teguh beragama menurut paham tradisional, sehingga (hapal Al-Qur’an dan) menguasai ilmu-ilmu Islam dasar bermadzhab Maliki. Di sisi lain, lingkungan tempat beliau tinggal (Luxor) adalah kawasan wisata internasional yang membuat beliau berkesempatan berinteraksi langsung dengan para turis dan budaya berbeda.

Tokoh muslim paling berpengaruh di dunia ini mampu menguasai delapan bahasa asing secara aktif. Beliau lalu ke al-Azhar dan mendapatkan bahwa metodologi yang dikembangkan di al-Azhar mendidik santri-santrinya menjadi manusia muslim yang inklusif.
“Sebab, mulai dari pelajaran yang paling pokok dan sederhana kita diajari bahwa selalu ada perbedaan pendapat di dalamnya. Rasulullah SAW mengajarkan cara salat kepada semua sahabat beliau, yang pada gilirannya sampai kepada para imam dan guru kita. Semua sepakat bahwa salat lima waktu itu wajib, dimulai dari takbir sampai ke salam. Tetapi sesudah itu para imam dan para ulama berbeda pendapat hampir dalam setiap detail ibadah salat.” Terang Syaikh al-Thayyeb seakan ingin menegaskan bahwa semuanya benar karena ada landasannya, dan bahwasanya Islam satu tetapi pemahaman/madzhab umat Islam absah berbeda-beda.

Di sisi lain, di al-Azhar beliau belajar Teologi Asy’arian yang tidak pernah mengkafirkan sesama muslim yang berpaham beda ataupun berbuat dosa.
“Bahkan di al-Azhar saya mengaji kepada para Guru Besar yang bukan hanya berstatus sebagai ulama, mereka juga sekaligus adalah para wali sufi. Ya betul, saya serius, mereka memang para wali sufi. Berkat mereka, saya tidak pernah terasing dalam sekat-sekat ilmu pengetahuan Islam: filsafat, teologi, tafsir dan hadits!” Urai Syaikh al-Thayyeb.

Sebagaimana diketahui, Syaikh al-Thayyeb kemudian melanjutkan pendidikannya di Sorbonne, Perancis sebelum kembali ke al-Azhar untuk mendapatkan master keduanya dan menyelesaikan jenjang doktoralnya. Maka, bertolak dari sikap saling menghormati keberagaman dalam kerangka besar keseragaman, Syaikh al-Azhar mengajak Kang Said, NU dan komunitas Islam Nusantara (Madzhab Nahdliyyin) untuk bersinergi dengan al-Azhar untuk mengangkat nilai-nilai moderat dalam Islam. Syaikh al-Thayyeb mengajak untuk bersama-sama menyebarkan moderatisme Islam ke seluruh penjuru dunia.
“Kang Said, Anda seorang Azhary, apa bukan? Oh, Anda tamatan Ummul Qura, ya?” Tanya Syaikh al-Thayyeb.

Kiai Said membenarkan bahwa dirinya memang belajar di Ummul Qura, Makkah. Namun meski studi di Ummul Qura, ia berinteraksi dengan beberapa Guru Besar al-Azhar.
“Dosen saya Azhary, seperti Doktor Sulaiman Dunya, Doktor Mahmud Ahmad Khafaji, Doktor Barakat Abdul Fattah Duwaidar, dan beberapa yang lain. Saya Asy’arian, konsep sifat Allah seperti wujud, qidam , baqa’ dan seterusnya bahkan sudah saya dapatkan sejak saya masih anak-anak.” Jawab Kiai Said Aqil.

Syaikh al-Thayyeb tampak senang mendengar jawaban koleganya disebut. Ia pun berkomentar bahwa ada masa bahwa di Ummul Qura lebih baik dari masa-masa sesudahnya, saat para Professor tadi masih mengajar di sana, dibandingkan sesudah paham Wahhabi dipaksakan secara rigid.

Syaikh al-Thayeb terlihat menerima bahwa Kyai Said adalah seorang yang tumbuh besar dalam pendidikan berpaham Asy’arian dan mempunyai kecenderungan Asy’arian yang berakidah lima puluh dan tidak mengkafirkan orang, meskipun gelar master dan doktoralnya didapatkan dari Saudi Arabia.
“Kang Said, apakah Anda sudah mengaji kitab al-Isyarat wat Tanbihat yang dianggit oleh Ibnu Sina kepada Professor Sulaiman Dunya?”
Tanya Syaikh al-Thayyeb yang langsung dijawab Kiai Said Aqil dengan anggukan kecil sambil tersenyum.

Syaikh al-Thayyeb melanjutkan, “di kitab tersebut ada pembahasan tentang teori emanasi Aristotelian, yaitu ‘aktif agens’ dan ‘produktif agens’. Sedikit penjelasan, bahwasanya ‘intellectus agens’ dan ‘produktif agens’ dalam filsafat Peripatetik Sinawiyan adalah ‘entitas transendental’ yang berbeda tapi seperti dua sisi mata uang. ‘Intellectus agens’ menerima ilham, data dan instruksi dari Tuhan, sedangkan ‘produktif agens’ mewujudkannya dalam dunia nyata.” Urai Syaikh al-Thayyeb sambil sesekali pandangannya menatap audiens yang membentuk setengah lingkaran.

Syaikh al-Thayyeb hendak mengalihkan penerapan konsep yang melangit tadi kepada aktivitas sinergis yang membumi. Ia melanjutkan.
“Kang Said, tipikal Anda lebih dekat sebagai seorang yang ‘aktif agens’ atau ‘produktif agens’? Hmmm … InsyaAllah Anda adalah seorang ‘aktif agens’.” Telisik Syaikh al-Thayyeb seakan menyiratkan bahwa Kiai Said adalah tipikal pemimpin yang mengilhami, menginspirasi dan menggerakkan, bukan murni pelaksana atau manajer lapangan.

Maka Syaikh al-Thayyeb pun mengajak Kiai Said Aqil secara lugas.
“Kang Said, kita adalah sama, kita adalah satu. Selama saya masih hidup maka saya memback-up anda!” Tegasnya Syaikh al-Thayyeb yang langsung disambut Kiai Said dengan sikap hormat.

Syaikh al-Thayyeb lantas meminta Kiai Said agar membawa NU mendunia, bersama al-Azhar menjembatani perbedaan antar umat, melakukan disseminasi terhadap genre Islam yang damai dan merekatkan, bukan paham Islam yang memecah-belah. Pernyataan keseriusan Syaikh al-Thayyeb dibuktikan dengan memberikan 30 beasiswa untuk 20 calon mahasiswi dan 10 calon mahasiswa. Perbandingan, 2/3-nya akan diarahkan ke fakultas-fakultas non-agama seperti kedokteran, teknik, farmasi dan lain-lain. Beasiswa bahkan ditambah hingga total 80 beasiswa. Komitmen lainnya, Syaikh al-Thayyeb dan Al-Azhar akan membuka jalan bagi Kiai Said dan NU untuk bisa berkiprah lebih jauh di gelanggang internasional. (Bersambung)