Bagian Empat

Oleh Muhammad Aunul Abied Shah

(Mahasiswa al-Azhar Mesir)

Kajian filsafat Peripatetik Islam yang dikemukakan al-Farabi dan kemudian dirumuskan lebih jauh oleh Ibn Sina dalam “al-Isyarat wat-Tanbihat” dapat dipahami bahwa seorang pemimpin itu seharusnya adalah seorang filsuf yang dalam dirinya telah menggabungkan kesempurnaan ilmu teoritis dan amal praksis. Tetapi dalam praktiknya–menurut Syaikh al-Azhar–seorang pemimpin mempunyai dua tipikal yang dominan.

Meminjam istilah filsafat yang dibumikannya ke dalam realitas aktual, seorang pemimpin ada yang bertipikal sebagai ‘intellectus agens’ dan ada yang bertipikal sebagai Produktif atau ‘poelitis agens’. Intellectus Agens adalah pemimpin yang ‘mulham’ dan ‘mulhim’ yang dalam terma sufistiknya adalah mendapatkan ilham dari Allah dan bisa menginspirasi orang-orang yang dipimpinnya untuk bergerak mencapai kebaikan absolut yang menjadi tujuan bersama. Adapula pemimpin bertipikal ‘poelitis agens’ yang pada praktiknya adalah manajer dan pekerja lapangan yang tidak mempunyai visi yang mandiri.

Grand Syaikh al-Azhar berasumsi bahwa Kiai Said termasuk tipikal yang pertama yaitu ‘intellectus agens’. Karena itu setelah mengetahui dan meyakini kesamaan platform antara NU dan al-Azhar sebagai dua institusi Islam besar yang berakidah Asy’ari, bermadzhab sesuai madzhab yang empat dan bertasawwuf mengikuti teladan Imam al-Junaid dan Hujjatul Islam al-Ghazali, kemudian secara aktual ingin menampilkan wajah Islam moderat yang ramah dan menebar kedamaian maka tidak heran kalau Syaikh al-Thayyeb mengajak NU untuk bersinergi.

“Nahdlatul Ulama itu sebuah nama yang bagus, tetapi kebangkitan ulama yang sejati baru bisa dikatakan terwujud nyata, atau dalam kata lain, menjadi NU Sejati saat kebaikan dan kedamaian yang menjadi misi semua ulama Islam tersebar di seluruh penjuru bumi.” Kata Syaikh ak-Thayyeb dengan ekspresi optimis. Statemen yang menyiratkan harapan agar NU bukan hanya organisasi yang mempunyai akar yang kuat dalam diri sembilan puluh dua juta anggotanya di Indonesia melainkan juga tumbuh tinggi bercabang-cabang dengan dedaunan yang rimbun dimana-mana.

Sebagai representasi Institusi al-Azhar yang merupakan lembaga Islam paling terkemuka di dunia, Syaikh al-Thayyeb siap mendukung dan memfasilitasinya. Syaikh al-Thayyeb tidak menolak diksi “Islam Nusantara” yang beliau sebut sebagai “Madzhab Nahdlawiyin”. Sebagai seorang yang sudah mempelajari filsafat dan wacana pemikiran Barat serta mampu berkomunikasi aktif dengan beberapa bahasa negara Eropa, Syaikh al-Thayyeb sudah terbiasa dengan diksi-diksi seperti itu. Beliau hanya menepis dengan santun inklinasi superioritas yang tersirat dari makna distinktifnya.

Di sisi lain Syaikh al-Thayyeb mendorong Madzhab Nahdliyyin agar menjadi madzhab yang terbuka, bukan madzhab yang eksklusif, dan menyebarluaskannya menjadi kebangkitan ulama yang sejati. Ulama yang ‘digugu’ dan diteladani. Ulama yang didengar pandangannya dalam semua strata sosio-politik dan ulama yang mendunia.

Syaikh al-Thayyeb juga tampak memprediksi bahwa NU seperti al-Azhar yang tidak terlibat langsung dalam politik praktis namun mempunyai pengaruh dan kekuatan politik. Hal ini tampak dari jawaban beliau terhadap fenomena yang disebut sebagai Islam Politik dan politisasi mimbar-mimbar agama.
“Agama harus menjadi inspirasi yang mengarahkan politik agar menjadi kekuatan yang mewujudkan kebaikan. Sayangnya, dalam praktik yang banyak terjadi saat agama bercampur dengan politik biasanya politik yang mengotori agama dan agama merusak politik.” Ujar Syaikh al-Thayyeb prihatin.

“Sikap kita dalam masalah politik dan khilafah adalah sikap yang sejalan dengan Akidah Asy’ariyah, sebagaimana tertera di bagian-bagian terakhir buku-buku induk teologi Islam, seperti Kitab al-Mawaqif dan al-Maqashid: masalah ini termasuk masalah furu’iyat, bukan masalah pokok keyakinan.” Terangnya meyakinkan.

Syaikh Thayyeb melanjutkan.
“Menurut hemat saya pribadi, kondisi sekarang membuat penegakan khilafah tidak masuk skala prioritas. Dunia sudah terbagi-bagi dalam batas-batas nation states: di darat, di laut, bahkan di udara pula. Kenapa kita capek-capek bertempur dan membangun kekuatan untuk melakukan pekerjaan yang saat ini termasuk sia-sia, hanya membuang waktu dan tenaga belaka?” Imbuhnya. (bersambung)