oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Alam dan karakter pedesaan terasa sangat kuat melingkupi Campuhan Ridge Walk—begitu turis asing menyebutnya—di Ubud Bali. Saat melewati jalan menuju bukit Campuhan, para wisatawan tampak duduk di pojok-pojok cottage juga café. Ada yang  menyendiri, bercengkerama, sambil menatap pemandangan yang indah. Mereka bisa memilih view persawahan yang membentang eksotik, perbukitan yang rindang, lembah yang penuh ilalang, juga sungai yang terdengar gemericik. Menikmati bukit Campuhan cukup dengan jalan kaki dengan waktu tempuh sekitar satu jam tiga puluh menit. Memulainya bisa dari Pura Gunung Lebah hingga Villa Lembah Giri di sisi utara atau sebaliknya.

Baru saja menjejakkan kaki menelusuri bukit Campuhan,  suara keakraban menyapa dari seorang laki-laki yang berada di balik meja galeri lukisan. Dia mempersilahkan para wisatawan untuk melihat hasil karyanya, tak harus membeli. Galeri itu cukup mungil, bukan maksurah. Sekeliling temboknya sudah  penuh dengan lukisannya. Sedangkan di sudut sisi kiri terdapat gulungan kain yang sudah penuh lukisan tertata rapi. “Itu lukisan-lukisan yang sudah laku, agar simpel membawanya ya digulung.” Katanya. Di bagian depan gallery terdapat meja yang memajang patung-patung ukuran kecil berbahan dasar kayu. Sebagian besar patung motif binatang, seperti gajah, kura-kura, harimau dan lainnya.

Harga karya seni di desa ini tidak mahal. Patung binatang mungil itu misalnya, dijual cuma lima puluh ribu rupiah. Sedangkan harga lukisan bervariatif namun tidak sampai jutaan rupiah. Menurut pemilik gallery, dirinya adalah seniman bukan pedagang, termasuk juga lainnya yang ada di sekitaran bukit Campuhan. Karya seni tersebut masih murah dan menjadi mahal jika sudah diperdagangkan di daerah lain.

Di sepanjang jalan desa menuju jalan setapak Bukit Campuhan tersembul suasana tenang dan damai. Penduduk lokal menegur sapa, melempar senyum mendemonstrasikan keakraban dan harmoni. Sikap ini yang membuat para turis asing melangah. Daddi H. Gunawan (2014) seorang Sosiolog pedesaan dalam bukunya “Perubahan Sosial di Pedesaan Bali” hasil risetnya di desa Pakraman Karangasem Bali menjelaskan bahwa konstruksi imajinasi yang terlanjur menempel kuat pada sosok Bali sebagai Pulau Dewata sebenarnya menghadirkan kesan dan realitas yang terbentang suatu jarak. Di Bali juga berkembang berbagai ketegangan, pertentangan bahkan konflik. Kehidupan damai dan harmoni di satu sisi dan konflik juga pertentangan di sisi lain sejatinya bagian tak terpisahkan dari sejarah kehidupan sosial masyarakat.

Kekuatan harmoni yang mewujud di Bali itu tak lepas dari dari cara pandang dualitas masyarakatnya dalam melihat dunia sosialnya yang dikenal dengan Rwabhineda. Di samping masyarakat Bali juga menjaga keharmonisan melalui tri hita karana, yaitu nilai luhur yang dijunjung tinggi dan dijiwai dalam praktik kehidupan sehari-hari oleh krama desa. Tri hita karana telah menjadi salah satu habitus desa.

Setiap masyarakat suatu desa mempunyai nilai sebagai dasar memelihara keharmonisan. Keakraban penduduk di sekitar Campuhan cermin dari keakraban masyarakat desa di belahan Indonesia lainnya.

Campuhan, 22 Desember 2017