Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Ramai media massa menginformasikan Presiden Jokowi meresmikan kereta bandara dan kereta tanpa awak yang sering disebut dengan Skytrain, saya tergelitik untuk mencobanya. Sepulang dari kunjungan kerja di beberapa kota di Jawa Timur, saya bertekad menggunakan Kereta dari Bandara Soekano-Hatta menuju Depok. Beberapa hari sebelumnya saya sudah menikmati tol dalam perjalanan dari bandara Juanda Surabaya menuju Kertosono Nganjuk yang memerlukan waktu satu jam (dari sebelum ada tol memerlukan waktu hingga tiga jam).

Landing di Terminal 3, saya menuju ruang tunggu Skytrain. Menjangkau ruang tunggu Skytrain perlu keluar bandara dulu menuju lobby kemudian ke arah lift untuk naik ke lantai satu. Menunggu beberapa menit sambil duduk menikmati wi-fi, Skytrain pun datang dan membawa saya menuju Stasiun Kereta Bandara. Ya, Skytrain, fasilitas yang selama ini hanya saya temua di bandara-bandara internasional di luar negeri.

Sesampai di Stasiun Bandara, saya cukup surprise. Stasiun bandara ini cukup luas dan keren. Beli tiket dilayani mesin mirip ATM. Ruang tunggu ditata cukup artistik. Dibalik kaca sana terdapat beberapa rel kereta. Disitulah nanti saya masuk untuk naik kereta. Saya pun membeli tiket seharga tujuh puluh ribu rupiah dengan alat pembayaran kartu debit. Kartu kredit pun dilayani. Tujuan saya Stasiun Sudirman. Beberapa menit menunggu, kereta bandara telah siap dan para penumpang masuk satu persatu sambil menempelkan tiket ke mesin barcode yang berjejer di pintu masuk ruang kereta.

Kereta Bandara tentu saja sangat nyaman. Saya sangat menikmatinya. Kereta melintasi persawahan, kompleks perumahan, daerah industri dan muncul juga deretan rumah kumuh di pinggiran rel. Tampak beberapa penumpang membawa koper yang cukup besar. Saya menerka-nerka mereka dari perjalanan jauh berhari-hari dan mencoba kereta bandara seperti saya.

Waktu tempuh dari Bandara ke Stasiun Sudirman kira-kira satu jam. Sesampai di Stasiun Sudirman perlu jalan kaki kira-kira dua ratus meter untuk menuju ke Stasiun Kereta Rel Listrik (KRL) arah Depok. Membeli tiket seharga tiga ribu rupiah, saya pun naik KRL dari Stasiun Sudirman ke arah Depok. Sesampai di Stasiun Depok saya berlanjut naik taksi online menuju rumah.

Total biaya yang harus saya keluarkan untuk penggunaan Kereta dari Bandara Soekarno-Hatta hingga sampai rumah di Depok sebesar Rp. 95.000,-. Sebelum ada kereta bandara, transportasi massal yang tersedia adalah Bus Damri. Tiket Bus Damri dari Depok ke Bandara Soekarno-Hatta Rp.60.000,-. Saya masih perlu mengeluarkan biaya transportasi dari rumah menuju terminal Depok kira-kira Rp.30.000,- sehingga total Rp.90.000,-. Alternatif lainnya adalah mobil pribadi yang memerlukan biaya kira-kira Rp. 250.000,-

Fasilitas Bandara Soekarno-Hatta Skytrain semacam Skytrain, kereta bandara serta infrastruktur yang mendukungnya seperti terminal, stasiun, ruang tunggu, loket, toilet, mengingatkan saya atas bandara Changi Singapura, KLIA Kuala Lumpur Malaysia atau Schiphol Amsterdam Belanda. Bandara Soekarno-Hatta sudah tak kalah baik dengan bandara-bandara tersebut bahkan dengan Bandara Baiyun Guangzhou Tiongkok sekalipun. Tak hanya keapikan secara fisik, rasa nyaman, tertib, aman dan bersih pun saya dapatkan.

Beberapa catatan atas fasilitas kereta bandara Soekarno-Hatta ini, diantaranya adalah kepastian waktu. Saya lebih bisa memperkirakan waktu tiba di rumah. Jika naik kendaraan non kereta, saya harus menghitung anomali waktu tempuh karena kemacetan Jakarta. Catatan lainnya adalah efisiensi. Kereta bandara yang mendapatkan perlakuan khusus dibanding moda transprotasi lainnya berkonsekuensi pada efisiensi, terutama dari segi biaya. Inilah yang dimaksud Richard M. Steers (1985) sebagai efisiensi dimana masyarakat merasakan perbandingan saat menempuh jarak tertentu dengan biaya yang diperlukannya antara sebelum ada kereta listrik bandara dengan sesudah fasilitas tersebut tersedia.