Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Heyword R. Floyd, pria paruh baya berkebangsaan Amerika Serikat masuk ke ruang yang saat ini popular disebut video call. Setelah memasukkan kartu voucher telepon, ia tersambung dengan Squirt, putri kecilnya di rumah yang akan merayakan ulang tahun. Terjadilah dialog kedua manusia itu meski dipisahkan oleh jarak lebih dari tiga ratus delapan puluh ribu kilometer. Floyd menyampaikan kepada Squirt bahwa ia tidak bisa hadir di pesta ulang tahunnya. Di telepon yang dilengkapi monitor itu wajah Squirt tampak kecewa. Namun Floyd yang sedang dalam Pesawat ruang angkasa menuju Kawah Clavius itu menjanjikan hadiah menarik untuk putrinya sekembali dari riset luar angkasanya.

Peristiwa di atas adalah penggalan adegan film a Space Odyssey yang rilis tahun 1968. Naskah imajinatifnya ditulis oleh Kubrick dan Arthur C. Clarke. Tak lama kemudian pada 1980 berkembang alat alat telekomunikasi hingga videophone yang diimajinasikan Kubrick dan Arthur di tahun 1968 itu terwujud dan sekarang berkembang cukup fantastis.Teknologi terus berkembang cepat dan manusia terus berpacu berkreasi dan berinovasi. Lalu ditengah kecepatan perkembangan teknologi tersebut, perubahan apa yang terjadi pada diri manusia?

Babak baru masyarakat industri memunculkan superioritas negara-negara yang mewarisi tradisi Yahudi-Kristen dan Shinto-Buddha direpresentasikan oleh Jepang (Scharf,1970). Arthur dan Kubrick pun pada 1968 telah memberi pesan kepada para penonton filmnya tentang beberapa negara yang mampu unggul di bidang teknologi, yaitu Rusia, Perancis, Italia, Inggris, Jerman dan Jepang disamping Amerika Serikat sendiri.

Capaian kemajuan di bidang teknologi tentu membawa perubahan pada diri manusia. Seseorang yang mendapatkan materi akibat kemajuan teknologi bukan berarti membebaskan dirinya dari resiko yang mengiringi kemajuan teknologi tersebut. Berbagai riset di Eropa memang menunjukkan bahwa era industrialisasi telah menjauhkan sekelompok orang kota dari gereja. Namun di kalangan industrial kelas atas—terutama di Amerika—terjadi peningkatan pengamalan agama. Mereka kembali ke gereja mengingat tekanan kehidupan yang tinggi. Sepertinya hal ini bersifat naluriah. Manusia sangat memerlukan agama pada saat menghadapi malapetaka sakit dan bencana alam. Tampaknya nilai-nilai duniawi tidak memiliki arti apa-apa (Scharf,1970).

Kemajuan teknologi telah berakibat kepada kadar keagamaan seseorang. Perbedaan kemajuan yang dialami oleh setiap individu memunculkan kadar keagamaan yang berbeda pula. Namun secara umum invasi kemajuan teknologi itu tidak mampu mengubah sifat kemanusiaan seseorang bahkan justeru membuatnya kukuh dan tegar. Kubrick dan Arthur secara apik menggambarkan hal ini pada adegan saat Floyd kontak putri kecilnya dengan menggunakan videophone di tengah tekanan hidupnya nun jauh di sana.

Kemajuan dan kemanusiaan, moralitas, agama saya yakini berelasi. Sejauh mana keduanya berelasi, sulit untuk menentukan kadarnya. Octavio Paz (1970) pernah melontarkan pertanyaan saat ia telah tuntas membaca tulisan-tulisan Levi-Strauss, “apakah manusia saat ini lebih peka, lebih jujur atau lebih brilian otaknya dibanding manusia alam yang belum beradab? Adnan, seorang agamawan lanjut usia di sudut desa pernah bertutur seakan menjawab Octavio Paz, “secara umum manusia sekarang tidak lebih peka, tidak lebih jujur meski bisa jadi lebih cerdas.”