Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sodiologi di unusia.ac.id)

Dinihari belum beranjak, masjid Syaikhona Cholil yang terletak di Martajasah Bangkalan itu sudah ramai lalu lalang masyarakat. Malam itu satu rombongan terlihat sangat mendominasi warna isi masjid. Mereka itu kelompok tarekat dari Purworejo yang datang dengan 29 bus atau 1450 orang. Pemimpinnya adalah KH Chalwani dari Pondok Pesantren an-Nawawi Berjan.

Seusai salat Shubuh, mereka berkerumun di samping makam Kiai Cholil Bangkalan yang berada di sisi mimbar masjid. Gemuruh suara ribuan orang menumbuhkan atmosfer mistis seisi ruangan masjid. Berkali-kali suara Kiai Chalwani terdengar mengkooptasi seakan gerakan Panglima yang memberi aba-aba pasukannya. Usai melakukan ritual, Kiai Chalwani menjelaskan sosok Kiai Cholil Bangkalan. Hari mulai terang dengan rintik hujan yang semakin deras, Kiai Chalwani pun mengajak rombongannya melanjutkan perjalanan.

Masyarakat muslim Indonesia mengenal Kiai Cholil Bangkalan sebagai guru para kiai Nusantara yang berasal dari Pulau Madura Jawa Timur. Lahir pada tanggal 27 Januari 1820 dan wafat pada tanggal 14 Mei 1923 bertepatan pada hari ke 29 Ramadhan. Dua tahun sebelum wafat, Kiai Cholil menulis kitab yang kemudian diberi nama “al-Matnus Syarif”. Kitab ini diselesaikan pada Rabo malam tanggal 17 Rajab tahun 1299 Hijriah bertepatan dengan tahun 1921 Masehi.

Kiai Cholil Bangkalan berada di puncak popularitas bagi masyarakat muslim Indonesia, khususnya Jawa-Madura. setidaknya dapat dilacak dari beberapa faktor, pertama, ia sosok mumpuni di bidang ilmu keislaman.
Sejarah dan kisah oralnya tergambar apik hingga melegenda. Masyarakat disuguhi sejarah gemilang tentang nilai dan norma hidupnya yang sempurna.

Kedua, Kiai Cholil Bangkalan mempunyai jaringan luas. Para kiai Nusantara tak bisa lepas dari empat mahaguru, yaitu Kiai Nawawi Banten, Kiai Mahfudz Termas, Kiai Mas Nawawi Sidogiri dan Kiai Cholil Bangkalan. Sejak masa remaja ia habiskan untuk menjadi santri kelana mulai dari ujung timur Pulau Jawa hingga tanah al-Haramain.

Ketiga, Kiai Cholil Bangkalan perintis Nahdlatul Ulama. Beberapa tahun menjelang Nahdlatul Ulama berdiri, Kiai Cholil adalah simpul gerakan para kiai Jawa dan Madura membendung aksi masif Wahabisme. Meskipun tidak sampai menyaksikan NU berdiri, Kiai Cholil Bangkalan adalah pemberi legitimasi NU sebagai perkumpulan para kiai. Kiai Ndara Muntaha adalah figur legitimasi tersebut disamping kisah tutur Kiai As’ad Syamsul Arifin Situbondo.

Masyarakat muslim Nusantara era kini tak bisa melupakan jasa empat kiai besar tersebut. Ibarat tim sepakbola, Kiai Mahfudz Termas dan Kiai Nawawi Banten adalah duo striker. Sedangkan Kiai Mas Nawawi Sidogiri dan Kiai Cholil Bangkalan adalah duo center back.

Sebagai bentuk terima kasih, makam Kiai Cholil Bangkalan selalu dipenuhi peziarah. Mereka datang dari berbagai penjuru negeri. Kiai Cholil memang pantas dimuliakan karena ia memuliakan manusia. Jika Boland (2000) meyakini bahwa manusia perlu belajar bahwa kematian itu batas kehidupan, Kiai Cholil justeru lebih dari itu. Pada bagian akhir kitabnya, Kiai Cholil menuliskan harapan agar masyarakat muslim mengakhiri aktivitas kehidupannya secara baik.