Grand Syaikh Ahmad Muhammad ath-Thayeb berkunjung ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta. KH Said Aqil beserta jajaran PBNU menyambut hangat. Sejak sepuluh menit sebelum kedatangan Grand Syaikh ath-Thayeb, Kiai Said Aqil beserta puluhan Pengurus dan wartawan sudah menunggu di halaman kantor PBNU. Wajah ceria tampak terpancar mengharapkan kehadiran tamu terhormat.

Alunan shalawat Badar menyambut kehadiran Grand Syaikh ath-Thayeb beserta rombongan. Kiai Said Aqil pun membawa tamunya ke lantai tiga di ruangan tempatnya berkantor setiap hari. Kiai Said Aqil menyampaikan terima kasih kepada Grand Syaikh ath-Thayeb yang telah memenuhi undangan Nahdlatul Ulama untuk berkunjung ke kantor PBNU. Pertemuan NU dan al-Azhar penting untuk penguatan Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang toleran dan moderat (Aqil, 2018)

Tak sedikit masyarakat yang masih belum memahami doktrin dan implementasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang populer disebut dengan ‘Aswaja’. Konsep ini memang telah berumur ribuan tahun. Memahami konsep ini tidak mudah dan memerlukan energi nalar mengingat keterlibatan multidisiplin ilmu keislaman yang kompleks.

Kerumitan konsep Aswaja bukan berarti menyulitkan masyarakat untuk memahami gambaran implementasinya. Aswaja di Indonesia mewujud dalam perilaku keseharian para kiai yang berasosiasi dalam Nahdlatul Ulama (NU). KH Hasyim Asyari menegaskan bahwa Aswaja juga terdemonstrasi dalam kehidupan ulama al-Azhar, Makkah dan Madinah (Asyari, 1918) sebelum dominasi Wahabi menguasai dua kota suci itu.

Penegasan KH Hasyim Asyari tentang hubungan NU dan al-Azhar lebih dari seratus tahun lalu itu kini telah membuahkan hasil. Generasi NU saat ini menempatkan al-Azhar sebagai prioritas tujuan studi keislaman. Lulusan al-Azhar bahu membahu bersama Nahdlatul Ulama mengembangkan pemahaman Islam yang moderat. NU pun paling kencang meneriakkan ajaran Islam yang moderat, anti radikalisme, ekstremisme apalagi terorisme (Said Aqil, 2028). Upaya ini mendapat dukungan al-Azhar dan al-Azhar di belakang Nahdlatul Ulama (ath-Thayeb, 2018).

Kunjungan Grand Syaikh al-Azhar ath-Thayeb ke kantor PBNU ini kali pertama sejak NU berdiri. Kunjungan ini terasa sebagai balasan atas kunjungan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj ke al-Azhar Mesir tahun lalu. Pertemuan kedua tokoh muslim dunia ini bagai perayaan satu abad sinergi kedua institusi Islam mengembangkan modetatisme Islam di dunia.

“Saya hadiahkan beasiswa untuk tigapuluh anak-anak NU, studi di al-Azhar.” Ujar Grand Syaikh ath-Thayeb sambil menoleh Kepada Kiai Said Aqil serta pandangannya menyapu ratusan audiens.

“Saya berharap lebih dari tigapuluh.” Timpal Kiai Said yang disambut tawa audiens.

Grand Syaikh ath-Thayeb lantas memanggil salah satu stafnya. Berbisik sebentar kemudian sambil tersenyum ia mengubah keputusannya.
“Oke, delapan puluh beasiswa untuk Nahdlatul Ulama.” Katanya sambil tersenyum. Sontak tepuk tangan dan tawa hadirin makin bergemuruh.

Pertemuan dua tokoh NU dan al-Azhar ini memang penuh keakraban. Isu keislaman dan kemanusiaan dibahas satu persatu dengan diselipi lelucon khas kiai NU.
“Cintailah orang Arab.” Kata Grand Syaikh ath-Thayeb kepada Kiai Said Aqil sambil tersenyum seakan telah mengetahui polemik tulisan ujaran tentang Kiai Said Aqil akhir-akhir ini. Audiens kembali tertawa riang. Grand Syaikh ath-Thayeb juga sempat berkomentar tentang perkembangan media sosial kini yang tidak lepas dari konten negatif.

Pada konteks ini saya meminjam analisa Walter Ong bahwa untuk mengetahui kebenaran pemikiran seseorang yang diungkapkan secara oral itu memerlukan analisa dan pengamatan dan tak lepas dari aktifitas membaca dan menulis (Ong, 1982). Maka konflik dan peperangan antarmuslim itu terjadi karena kebodohan (ath-Thayeb, 2018). Begitu juga produksi hoax, bullying, terjadi karena kemalasan analisa, menulis dan membaca.

Sepanjang pertemuan, Grand Syaikh ath-Thayeb memang tampak nyaman bertahan di tempat duduknya. Berkali-kali diingatkan protokoler untuk menyudahi pertemuan namun Grand Syaikh ath-Thayeb tetap meneruskan diskusinya.
“Silahkan jika ada lagi yang ingin bertanya, dua orang lagi.” Katanya antusias.

Kiai Said Aqil sampai menjelaskan melalui mikrofon bahwa sesi dialog yang masih berlanjut ini kemauan Grand Syaikh al-Azhar.

Pertemuan pun usai. Audiens berebut mencium tangan dua tokoh berpengaruh dunia hasil riset Thrle Royal Islamic Strategis Studies Center, Jordania. Kiai Said Aqil mengantar Grand Syaikh ath-Thayeb hingga ke halaman PBNU. Sebelum memasuki mobil, Grand Syaikh ath-Thayeb berkata lirih kepada Kiai Said Aqil, “baru kali ini pertemuan berlangsung rileks dan canda tawa.” Keduanya kembali tersenyum dengan wajah berseri.