Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen unusia.ac.id)

Mendaki Gunung Ijen dari daratan Banyuwangi memerlukan fisik yang prima. Para pendaki yang ingin menikmati puncak Gunung Ijen harus berjalan kaki kira-kira tiga kilometer. Medan jalan mempunyai kemiringan yang stabil sehingga sepanjang perjalanan ke puncak gunung itu memaksa semua orang untuk berjalan mendaki. Sesampai di puncak Gunung Ijen, para pendaki disuguhi keindahan alam yang memikat. Ternyata keindahan alam di puncak Gunung Ijen cukup variatif. Para pendaki bisa menikmati sunrise, berarti harus menempuh perjalanan lagi ke puncak bukit di sisi kanan. Di samping itu juga bisa menikmati keindahan kawah gunung Ijen, yang berarti harus menuruni lembah bebatuan yang curam kira-kira tujuh ratus meter.

Keindahan Gunung Ijen dan kawahnya yang telah menarik wisatawan dalam dan luar negeri tak membuat berhenti aktivitas para penambang belerang tradisional di Kawah Gunung Ijen. Para penambang Belerang itu tetap menempuh perjalanan naik-turun Gunung Ijen sepanjang enam ribu kilometer ditambah naik-turun lereng Gunung Ijen menuju kawah yang curam dan terjal sepanjang seribu empat ratus meter. Mereka naik-turun gunung membawa Belerang dengan memanfaatkan gerobak. Sedangkan untuk menaikkan Belerang dari Kawah Gunung Ijen sepanjang tujuh ratus meter masih harus dipikul.

Pekerjaan yang sangat berbahaya itu mereka lakukan untuk memburu harga Belerang Rp.1000/kilogram yang dipatok pabrikan setempat. Sekali pikul mampu membawa Belerang antara 50 kilogram hingga delapan puluh kilogram. Setiap orang terkadang mampu tiga kali membawa Belerang dari Kawah Ijen. Ketangguhan fisik setiap penambang Belerang mempengaruhi pendapatan setiap harinya.

Jumlah wisatawan pengunjung Kawah Ijen yang semakin meningkat telah memberikan alternatif pekerjaan kepada penambang Belerang. Banyak diantara mereka pada musim wisata yang beralih profesi dari penambang Belerang menjadi pemandu wisata, seperti menyediakan gerobak untuk alat angkut wisatawan menuju puncak Gunung Ijen, termasuk memandu wisatawan menuruni tebing curam menuju lembah untuk melihat Blue Fire, Danau Kawah Ijen yang hijau, bebatuan yang terbalut warna kuning, sumber Belerang dan lainnya.

Menciptakan alternatif pekerjaan para penambang itu penting dilakukan untuk menghormati kemuliaan nyawa para penambang Belerang. Puluhan tahun sudah berlangsung sebuah pekerjaan yang tidak memperhatikan aspek kemanusiaan, meski dari kacamata sistem kapitalisme sekalipun. Meminjam teori Karl Marx yang dijelaskan oleh Anthony Giddens (1973) para penambang Belerang itu telah masuk ke dalam exchange market ciptaan para kapitalis namun tidak mendapatkan hak exchange value dan exchange use value dari pabrikan atas pekerjaan yang sudah dilakukannya. Harga Rp.1000,- perkilo gram Belerang dengan jarak tempuh yang jauh dan membahayakan itu jauh dari kepantasan. Bukankah Pabrikan itu bukan pemilik Belerang di Kawah Ijen sana? Bukankah Pabrikan itu bukan penyedia jasa transportasi bagi para penambang Belerang?

Disamping Pemerintah Banyuwangi telah berupaya membantu menyudahi problem kemanusiaan para penambang Belerang di Kawah Ijen, sekelompok anak muda dari Nahdlatul Ulama juga berupaya menguatkan daya tahan ekonomi mereka. Caranya dengan menggulirkan program sosial untuk membantu meringankan beban hidup para penambang Belerang. Beberapa program telah disiapkan, diantaranya beasiswa bagi anak penambang belerang. Selanjutnya memperbanyak upaya sebagai langkah tidak mengucilkan nalar dari problem ekonomi sosial.