Tulisan Pertama

Oleh Muhammad Aunul Abied Shah (Mahasiswa al-Azhar, tinggal di Kairo)

Dalam setiap peristiwa monumental akan selalu ada narasi besar atau yang dibesar-besarkan, tidak heran kalau menjadi viral di media sosial ataupun media massa cetak dan elektronik. Mungkin salah satu faktornya karena sejalan dengan tuntutan aktual pada ruang dan waktunya.

Di sisi lain, selalu ada pula yang ‘tidak tertangkap’, “tidak terbaca’ dan karena itu ‘tidak tertulis’. Saya hanya mencoba menuliskan apa yang mungkin terlanjur luput dari persepsi, ‘tak tertangkap’ dan kemudian tak terekspos. Anggaplah sebagai upaya Kitaabat maa lam yuktab’, mendokumentasikan apa yang tak tertulis dari yang berkembang selama beberapa hari ini.

Salah satu di antara yang kurang terekspos –mungkin karena tidak sesuai dengan image yang selama ini terlanjur banyak tersebar — adalah statemen Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj dalam kata pengantarnya: bahwa Nahdlatul Ulama yang beliau pimpin adalah organisasi sosial kemasyarakatan yang mempunyai basis teologis akidah Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, beribadah sesuai dengan ajaran Madzhab Empat, dan bertashawwuf sesuai dengan teladan Imam al-Junaid Al Baghdadi dan Hujjatul Islam al-Ghazali.
“NU adalah organisasi yang tidak Wahhabiyah, tidak liberal dan tidak Syiah”, tegas beliau. Penegasan ini penting — menurut hemat saya — untuk digarisbawahi.

Beliau juga melanjutkan bahwa NU adalah organisasi yang mengusung Islam Nusantara sebagai sebuah karakteristik umum dan faktor pembeda. Islam Nusantara adalah pengejawantahan dari ketiga basis (teologis, amal-ubudiyah, dan akhlak spiritual) dalam kehidupan sehari-hari setiap individu muslim kawasan Asia Tenggara dan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hingga menjadi Islam yang tawassuth, tawazun dan i’tidal.

Para wali membawa Islam ke Indonesia dengan ajaran kedamaian, suri teladan yang mulia hingga mampu mengislamkan sebagian besar kawasan ini hanya dalam masa lima puluh tahun saja. Sederhananya, Islam Nusantara sebagai pembeda adalah Islam yang lembut, berakhlak mulia, tidak memecah-belah. Islam yang anti kekerasan dan ekstremitas. Islam yang membangun bukan menghancurkan.

Sekali lagi, menurut saya statemen tersebut sangat penting untuk digarisbawahi. Saya sangat menikmati dialog yang berlangsung di gedung PBNU tersebut. Dialog yang mempertemukan dua karakter yang berbeda. Kiai Said Aqil mempunyai karakter yang ceplas-ceplos, meledak-ledak, padahal merepresentasikan Islam Nusantara yang katanya lemah-lembut dan sejuk. Sedangkan Grand Syaikh Al-Azhar, Guru Mulia Prof. Dr. Ahmed el Thayyeb tampak kalem dan pembicaraannya runtut, padahal merepresentasikan Islam Arab yang dianggap kasar dan pemarah.

Karakter Kiai Said menciptakan suasana segar dan hangat, sedangkan gaya Syaikh al-Thayyeb membuat pembicaraan tetap fokus terkendali. Kalau diumpamakan, hal ini bagaikan pertemuan unsur Yin dan Yang–meminjam istilah Filsafat China Klasik–yang membentuk kesatuan yang padu. Tidak heran kalau Syaikh al-Thayyeb merasa seperti di rumah sendiri. Berkali-kali protokoler hendak menyudahi acara karena waktu terus beranjak malam, tapi Syaikh al-Thayyeb minta waktunya ditambah untuk dialog dengan para hadirin (Bersambung).