oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Seorang perempuan energik asal Indonesia memasuki satu apartemen di sebuah kota supersibuk di Hongkong. Sebuah apartemen terdiri dari dua ruang kecil dan sebuah ruang berukurang sedang. Didalam apartemen terdapat seorang nenek lanjut usia yang berbaring lemah. Perempuan Indonesia itu cukup cekatan merawat sang nenek meski dengan komunikasi yang sangat terbatas mengingat sang nenek sudah tak mampu lagi berkata-kata. Kedua perempuan beda suku bangsa itu hanya tinggal berdua saja. Inilah salah satu gambaran singkat masa tua warga negara Hongkong dan buruh migran Indonesia di Hongkong.

Buruh migran Indonesia di Hongkong didominasi perempuan. Sistem kerja mereka tergantung kesepakatan dengan majikannya. Misalnya libur di hari apa, kembali pasca libur di jam berapa dan lainnya. Mayoritas mereka memilih libur di hari Ahad. Tak pelak di hari Ahad kota-kota di Hongkong semakin berwarna dengan kehadiran orang-orang Indonesia yang mencolok di area-area publik. Dua tempat favorit yang sering dikunjungi para buruh migran ini, yaitu bersantai di Victoria Park dan belajar di majelis-majelis taklim.

Terkhusus kelompok buruh migran yang lebih memilih belajar di majelis-majelis taklim, tak kurang dari enam puluh majelis taklim yang menyebar di penjuru kota-kota di Hongkong. Setiap akhir pekan mereka mengadakan pengajian dan di bulan-bulan tertentu mengundang pendakwah dari Indonesia. Pendakwah yang diundang biasanya tergantung popularitasnya, kecenderungan pimpinan majelis taklimnya, bisa juga karena faktor lain. Jika animo ketertarikan buruh migran terhadap pendakwah tinggi maka belajar keislaman ditempatkan di masjid, seperti Mesjid Kowloon, masjid Ammar and Osman di Jalan Ai Kwan dan lainnya. Jika antusiasmenya besar maka kajian keislaman dilaksanakan di area yang lebih luas lagi seperti di Southern Stadium Wanchai.

Hidup di negeri orang tentu tidak sesederhana hidup di negeri sendiri, di kampung sendiri. Pernah baca pepatah ‘No Money No Swiss’ yang pernah ditulis Pierra Spoerri dalam bukunya “Rediscovering Freedom”? buruh migran itu saat ini sedang berada dalam pengaruh kuat masyarakat Hongkong yang telah memiliki rangsangan yang sangat besar untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya untuk membeli barang sebanyak-banyaknya (Spoerri, 1992). Perilaku lingkungan tentu berpengaruh kuat terhadap perilaku buruh migran dari Indonesia. Problem materialisme bukan satu-satunya. Problem sosial budaya tidak kalah pelik.

Bagaimana kondisi buruh migran dari Indonesia di Hongkong saat ini? Terdapat dua faktor besar yang sangat mempengaruhi kondisi mereka, yaitu Pemerintah Indonesia dan Hongkong. Konsulat Jenderal RI di Hongkong tentu super sibuk. Para diplomat Indonesia di Hongkong dituntut kreatif dan inovatif dalam rangka mengelola buruh migran. Mereka misalnya, mulai menggalakkan aksi-aksi sosial semacam pemeriksaan dan pengobatan gratis untuk buruh migran. Konjen RI juga mengenalkan pelayanan berbasis teknologi digital untuk mewujudkan pola kerja yang efektif dan efisien (Tri Tharyat, 2018).

Tantangan para buruh migran memang berat. Namun faktanya mereka masih mampu bertahan beradaptasi dengan lingkungan Hongkong. Mereka berstrategi menghadapi tekanan, seperti membentuk komunitas spiritual, berorganisasi, bergerak secara swadaya melakukan advokasi dan lainnya. Di bilangan Couseway Bay misalnya terdapat kantor Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Hongkong; NU juga mendirikan shelter migran di distrik Sham Tsui Po. Sekat-sekat negara yang makin menipis meniscayakan kelahiran masyarakat global dan para migran di Hongkong adalah salah satunya.