oleh Muhammad Sulton Fatoni

Kelahiran Nahdlatul Ulama pada tanggal 21 Januari 1926 merupakan deklarasi para kiai untuk melakukan perjuangan secara sistematis dan organisatoris. Pada Naskah ‘Muqaddimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama’ yang dibacakan pada saat Muktamar NU 1928, Rois Akbar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hadratus Syaikh Hasyim As’yari menuliskan bahwa Nahdlatul Ulama memperjuangkan empat agenda besar untuk masyarakat, yaitu penegakan keadilan, perwujudan keamanan, peningkatan kualitas hidup dan kemakmuran.

Nahdlatul Ulama memang perkumpulan para kiai dan pengikutnya (Hasyim Asyari, 1928) yang berpijak diatas nilai dan norma keislaman. Meski demikian empat agenda besar di atas tidak spesifik untuk masyarakat muslim namun untuk seluruh masyarakat Indonesia. Maka terjadi distribusi peran dan fungsi, yaitu kiai menangani persoalan keseharian masyarakat sedangkan Nahdlatul Ulama menangani persoalan relasi masyarakat dengan persoalan kebangsaan dan kenegaraan.

Pada konteks ini tampak bahwa para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama sebagai sarana gerakan perubahan masyarakat. Wujudnya bermacam-macam, suatu masa kiai menggunakan NU untuk melakukan perang kebudayaan sebagaimana yang dilakukan pada 1927. Pada tahun yang lain berwujud perlawanan sosial sebagaimana yang dilakukan pada 1928. Pada kurun lain berwujud perlawanan politik seperti yang dilakukan pada 1936. Saat tertentu berwujud perlawanan fisik sebagaimana yang dilakukan pada 1945. Momentum lain melakukan support terhadap kekuasaan sebagaimana yang dilakukan pada 1954, dan lainnya.

Sikap dan tindakan Nahdlatul Ulama dari masa ke masa dalam catatan sejarah selalu menimbulkan ‘geger’ dalam skala nasional. Sesungguhnya bukan Nahdlatul Ulama yang menjadi sumber masalah namun substansi persoalan yang sedang diselesaikan. Nahdlatul Ulama selalu berbicara substansi dan mengajak masyarakat untuk berpikir dan berperilaku cerdas. Meskipun masyarakat mempunyai tingkat nalar yang berbeda-beda hal itu bukan halangan bagi NU untuk membimbing masyarakat hidup secara cerdas dan berkualitas tinggi. Misalnya masalah identitas keindonesiaan baru-baru ini, para kiai tidak memusuhi para aktivis HTI, ISIS atau bentuk lainnya namun NU tidak setuju sistem khilafah diterapkan di Indonesia serta melawan radikalisme yang berbungkus agama (2014).

Kini Nahdlatul Ulama telah berusia 92 tahun. Jika mereferensi kepada usia NU yang oleh kolonial Belanda hanya dibatasi 29 tahun, capaian 92 tahun ini tidak sederhana. Rumit mengingat perjalanan NU itu berkarakter gerakan dan kebangkitan. Kerumitan yang oleh Indonesianis Greg fealy pernah menyebutnya dengan ‘perlawanan’. Martin van Bruinessen mendiskripsikannya dengan kata ‘perjuangan’. Mitsuo Nakamura menulisnya dengan tradisionalisme radikal. Andree Feillard juga pernah menulisnya dengan sebuah hubungan yang ganjil (1997).

Ternyata faktanya NU mempunyai siklus dua puluh sembilan tahunan. Melewati dua puluh sembilan tahun pertama, pada 1955 para kiai menjadikan NU sebagai partai politik. Melewati duapuluh sembilan tahun kedua, pada 1984 para kiai mendeklarasikan Khittah NU. Melewati duapuluh sembilan tahun ketiga, para kiai mendorong NU ke dunia internasional sebagai model berislam yang moderat dan toleran. KH Maimoen Zubair (2015) merasa setuju jika NU kemudian dikenal dengan Islam Nusantara. Selamat Harlah NU. Empat agenda besarmu itulah yang selalu membuatmu menarik di setiap kurun waktu. (foto: Kemenag RI)