Bagian Kedua

Oleh Muhammad Aunul Abied Shah (Mahasiswa Universitas al-Azhar)

Mengikuti pertemuan antara Syaikh al-Thayyeb dan Kiai Said beberapa hari lalu terasa keduanya mampu menghadirkan chemistry. Mungkin salah satu faktor pendorongnya karena beliau berdua satu jurusan spesialiasi keilmuan dan satu kecenderungan sufistik. Sebagai seorang professor Teologi & Filsafat Islam yang bertemu dengan kolega sejurusan, tidak heran kalau Syaikh al-Thayeb sering menyelipkan terma-terma filsafat yang cukup berat bagi pemirsa awam.

“Ijinkan saya menjawab candaan yang hangat ini dengan candaan yang lain”, kata Syaikh at-Thayyeb merespons Kiai Said.
“Andaikan Allah Ta’ala mengutus seorang nabi (berdasarkan karakteristik umum sebuah bangsa), pastilah Dia akan mengutus nabi tersebut di Indonesia, dari kalangan kalian (Nahdlatul Ulama).”
Syaikh al-Thayyeb membuka penjelasannya sambil tersenyum. Ia kemudian melanjutkan.
“Tetapi Allah Taala telah berkehendak untuk mengutus seorang Nabi terakhir yang membawa kerasulan untuk semua umat manusia, tanpa disekat oleh batas kebangsaan, ruang dan waktu. Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya yang kerasulannya dibatasi oleh komunitas bangsa tertentu, tempat tertentu bahkan waktu tertentu. Ajaibnya, Nabi terakhir yang diutus membawa rahmatan lil aalamin ini berasal dari bangsa Arab yang katanya mempunyai karakteris umum yang begundal, kasar dan suka menumpahkan darah. Maka, secara teologis kita wajib mencintai dan mengikuti Nabi Muhammad yang berasal dari bangsa Arab tersebut. Keimanan kita menjadi tidak sah dan tidak benar tanpa itu.” Urai Syaikh al-Thayyeb. Suasana tampak khusyu’ mengharapkan kelanjutan penuturan akademisi hebat ini.

“Jangan lupa pula, yang membawa Islam damai ke sini adalah orang Arab. Andaikan tidak ada mereka ke sini, mungkin sampai sekarang anda semua bukan beragama atau bermadzhab Islam apapun. Mungkin kita akan berjumpa sekarang ini dan anda semua menganut madzhab apa ya namanya, mungkin madzhab Asia Tenggara (kuno)!” Canda Syaikh al-Thayyeb sambil tersenyum disambut tawa audiens yang memadati ruangan.

Syaikh al-Thayyeb kemudian merespons paparan Kiai Said tentang Islam Nusantara. Menurutnya, semua karakteristik dan distingsi yang ada pada Islam Nusantara adalah kesejatian agama Islam itu sendiri.
“Itulah yang menggabungkan kita semua dalam koridor saling menghormati dan menjaga siapapun yang salat seperti kita, menghadap kepada kiblat yang sama, dan memakan makanan yang kita sembelih. Kesejatian Islam tersebut kemudian termanifestasikan dalam tindakan sehari-sehari manusia muslim, baik dalam konteks individual maupun bermasyarakat dan bernegara.” Kata Syaikh sl-Thayyeb dengan wajah bersemangat.

Syaikh al-Thayyeb meneruskan, “Tentu saja saya datang ke sini tidak bermaksud untuk mengajarkan apa yang menjadi adat-kebiasaan di tempat saya, apalagi kalau melihat bahwa sekarang kawasan Arab secara sosial-politik sedang bermasalah. Akan lebih penting jangan sampai perbedaan antar setiap bangsa dan golongan muslim menghalangi kita untuk saling menghormati, apalagi sampai merendahkan bangsa lain, apalagi sampai memonopoli kebenaran dan mengkafirkan pihak lain.” Terang Syaikh al-Thayeb dengan intonasi suara yang tegas.

Kiai Said yang duduk di sebelahnya tampak merespons dengan anggukan yang tak kalah semangatnya.
“Apapun yang terjadi…”, sambung Syaikh Thayyeb sambil menghela nafas, “…saya anti orang yang merasa lebih tinggi dari orang lain, saya anti monopoli kebenaran, saya anti takfir. Tidak ada yang bisa mengeluarkan seorang muslim dari status keislamannya kecuali mengingkari apa yang membuatnya masuk sebagai seorang muslim”, tegas Syaikh al-Thayyeb.

“Kita tidak bisa menegasikan adanya perbedaan bangsa dan aliran pemikiran. Semua madzhab ada, dan biarlah itu tetap ada, tidak perlu dipaksakan jadi satu. Biarlah Salafisme itu ada, biarlah Sufisme ada, biarlah Syiah itu ada. Hal itu adalah keniscayaan historis! Bahkan biarlah Madzhab Azhary itu ada, biarlah pula Madzhab Nahdliyah juga tetap ada. Terpenting kita semua bisa bersinergi dalam ko-eksistensi!” urai Syaikh al-Thayyeb.

Lebih jauh Syaikh al-Thayyeb berpendapat, orang yang memaksakan penyatuan semua aliran Islam itu adalah orang yang keislamannya masih berkualitas anak-anak. Mereka melihat dunia hanya berwarna hitam putih: kalau anda tidak benar berarti salah, kalau anda bukan golongan kami berarti musuh kami.

Islam yang dewasa, menurut Syaikh al-Thayyeb adalah Islam yang merangkul dan tidak meminggirkan “Ya, saya berbeda dengan anda, tetapi saya tetap menghormati anda dan menyayangi anda sebagai saudara seagama!” Pungkasnya. (Bersambung)