Oleh: Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi unusia.ac.id)

Pembaca Novel Endesor karya Andrea Hirata pasti tergiring dalam fantasi sebuah desa yang indah. Meski setiap pembaca membayangkan keindahan dalam konstruksi yang berbeda-beda, desa Edensor telah membuat pembaca jatuh hati. Itulah kekuatan rangkaian kata.

Berbeda dengan Edensor, adalah desa Penglipuran di Bangli. Desa Penglipuran saat ini menjadi destinasi wisata. Awal memasuki desa ini terkesan biasa saja. Halaman luas untuk parkir yang dilengkapi fasilitas toilet dan Pendopo. Lalu menuju tenda membayar tiket masuk Rp. 15.000,- baru setelah itu belok kiri masuk ke obyek desa Penglipuran.

Baru membelokkan tubuh ke kiri, sejauh mata memandang yang tampak adalah deretan rumah-rumah penduduk yang berjejer rapi saling berhadapan dan hanya dipisahkan oleh jalan sekitar tujuh meter. Antara tembok pagar rumah dengan jalan terdapat selokan yang lebarnya kira-kira dua puluh centimeter dan tanaman rumput yang tumbuh diatas tanah dengan lebar kira-kira satu meter. Jalan, hijau rerumputan dan selokan dilihat dari ujung desa tampak lurus dan rapi. Sedikitpun tak tampak yang ‘off side’ dari pakem arsitektur desa. Misalnya, ada warga desa yang nakal dengan memajukan pagarnya, atau mengkapling bahu jalan untuk jemur pakaian, dan lainnya.

Desa Penglipuran mempunyai jalan yang panjangnya kira-kira 500 meter. Semakin ke dalam semakin rendah. Meski demikian jalan desa tetap rata, tak ada kemiringan jalan desa karena dalam radius tertentu dibuat beberapa ‘kemiringan tanah’.

Arsitektur desa yang indah diimbangi dengan nilai-nilai sosial yang mengejewantah dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menjaga kontinuitas upacara keagamaan. Mereka menyambut para wisatawan dengan ramah dan memperlakukannya sebagai tamu, bukan sebagai mesin uang. Seorang warga desa yang kesehariannya berjualan souvenir mengatakan bahwa komitmen warga desa menata lingkungannya berbuah manis dengan kehadiran para wisatawan.

Desa Penglipuran memang unik. Kekhasan arsitekturnya berpadu dengan nilai yang mewujud dalam norma. Inilah fondasi kebudayaannya hingga mereka menjadi komunitas yang tampak eksotis.

Eksotisme Penglipuran pun mampu menarik orang-orang di luar dirinya untuk datang. Wisatawan domestik dan mancanegara itu tak ubahnya feromagnetik yang tak punya energi untuk menghindarinya. Mereka tak hanya dihadirkan tapi juga terbius. Balut kesantunan dan kesahajaan masyarakat Penglipuran memang telah mematikan daya pilih orang-orang.

Ya, Desa Penglipuran memang tak seluas Edensor. Namun daya magisnya dalam menundukkan ego orang lain mengalahkan desa Magnesian yang masih membelah utara-selatan.