Polemik terus bergulir tentang Full Day School yang digagas Kemendikbud melalui Permendikbud No.23/2017. Dalam grup diskusi dunia maya, kebijakan ini disoroti berangkat dari media online ternama di negeri ini yang mengangkat tulisan bahwa  pemikiran ‘the world is flat‘ ikut jadi latar belakang diadakannya penguatan pendidikan karakter negara ini. Istilah ‘the world is flat‘ menjadi populer lewat karya Thomas Loren Friedman (Tom) tahun 2005, berjudul ‘The World Is Flat: A Brief History of The Twenty-first Century’.

Istilah ‘pendataran dunia’ ingin menjelaskan bahwa teknologi informasi dan komunikasi, atau simpelnya adalah internet, telah membuat bumi tampak seperti tanpa halangan. “Berlangsungnya pendataran dunia (the world is flat) sebagai akibat berbagai perubahan mendasar dimensi-dimensi kehidupan manusia terutama akibat mengglobalnya negara, korporasi , dan individu,” demikian tertulis dalam modul yang didahului Sambutan oleh Muhadjir Effendy ini seperti yang ditulis dalam detikcom.

Sebenarnya buku  ‘The World Is Flat: A Brief History of The Twenty-first Century’ ini buku lama. Jika buku ini dijadikan landasan teori untuk kebijakan pendidikan karakter terasa kurang relevan. Sebab penulisnya sendiri, Friedman sudah merevisi kesimpulannya lewat buku yang lebih baru, “World is Flat, Hot and Crowded”. Di buku yang baru, Friedman lebih banyak bicara tentang global warming dan climate change. Friedman mengilustrasikan pertumbuhan ekonomi yang lambat membuat dunia nanti tidak stabil dan dampak kerusakan lingkungannya lebih besar. Friedman menyarankan agar Amerika melakukan perubahan kebijakan nasional dengan green revolution. Orientasinya isu lingkungan. Jadi Pak Menteri Muhadjir ketinggalan kereta terlalu jauh.

Buku ‘The World Is Flat: A Brief History of The Twenty-first Century’ ini bukan tentang teori bumi datar kelompok yang sedang trend di Indonesia. Jika kelompok bumi datar membahas bumi dari perspektif globalisasi sedangkan bumi ini dari perspektif globalisasi. Bedanya, yang satu arti denotatif bumi datar secara bentuk sedangkan yang satu konotatif datar dalam arti koneksi tak terbatas tanpa halangan. Misalnya, pesan singkat dikirim dari Jeddah bisa langsung sampai dalam hitungan detik di Purwokerto.

~Syaroni Rofii~