oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Malam itu Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia diramaikan manusia, dari penikmat musik hingga penikmat kopi. Semuanya ingin mendengarkan Manaqib Mahbub Djunaidi yang dibalut musik Jazz. Komunitas Omah Aksoro dan mahasiswa PMII penyelenggaranya bekerjasama dengan Komunitas Jazz Kemayoran.

Aku mulai memperhatikan Mahbub Junaidi saat ayahku memilih kata “Mahbub” untuk nama cucunya, tafa’ulan katanya. Sejak itu kucari informasi tentang Mahbub Junaidi ditengah kemiskinan kotaku akan literatur. Dan aku pun bergumam, ternyata lulusan madrasah bisa menjadi sosok sekomplit Mahbub Djunaidi.

Watak madrasah membentuk Mahbub Djunaidi. Enam tahun ia menjadi motor gerakan mahasiswa komunitas Nahdliyin. Ia gerakkan mahasiswa dengan kekuatan nalar dan hati. PMII pun menuai puji dan nama harum. Di antara catatan harum tentang Mahbub Djunaidi, saat hatinya tergerak menolak kemauan besar Penguasa yang ingin membubarkan HMI, meski argumentasi Penguasa dibangun dengan sangat rasional.

Mahbub telah mengajarkan cara hidup dengan terus bertasbih. Suatu waktu ia membela pengemis. Ia masygul melihat tingkah suatu rezim kota yang menakut-nakuti pengemis dengan razia dan penangkapan. Urbanisasi yang terjadi pada sekelompok pengemis itu karena tidak ada komitmen Pemerintah terhadap implementasi pasal 34 UUD 1945 yang berbunyi, “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Mahbub mempertanyakan kepantasan watak Penguasa yang satu sisi memperbolehkan orang menjadi kaya sekaya-kayanya namun sisi lain mengejar-kejar orang miskin (Mahbub Djunaidi, 1988). Tuhan tentu tidak suka hambanya menjadi pengemis. Namun Tuhan juga tidak suka ada Penguasa membiarkan rakyatnya menjadi Pengemis. Itulah kira-kira yang ada di benak Mahbub Djunaidi.

Kekuatan nalar sastra dan pengalaman hidup Mahbub Djunaidi melahirkan gaya zikir yang ritmis. Menyentil Penguasa dengan cara yang khas Mahbub. Tiga bulan sebelum meninggal dunia, ia deskripsikan betapa lemahnya kaum tani yang tak bertanah. Dibalik kelemahannya itu Mahbub juga merasakan kegigihan mereka melakukan perubahan dan perbaikan nasib. Pada konteks ini Mahbub Djunaidi menyitir penggal kalimat Dostoevsky, “barangsiapa tidak memiliki tanah sendiri berarti dia pun tidak memiliki Tuhan,” (Mahbub Djunaidi, 1995).

Keberpihakan Mahbub Djunaidi terhadap kemanusiaan tidak diragukan. Namun jangan harap menemukan redaksi yang  vulgar dari Mahbub Djunaidi tentang sikap keberpihakannya itu. Mahbub Djunaidi hidup di tengah sebuah rezim yang punya kuasa menerjemahkan kata demokrasi. Maka Mahbub Djunaidi pun berstrategi agar kelugasan keberpuhakannya terhadap proses perubahan itu bisa terus berlangsung tanpa “menyakiti” rezim. Mendorong perubahan dalam kondisi seperti ini menjadikan Mahbub kaya referensi, canggih mencari padanan peristiwa dan mengaitkannya.

Mahbub Djunaidi hidup di yang indah dan zaman yang tidak mudah. Solidaritas sosialnya tumbuh kembang di tengah masyarakat yang relatif sederhana mimpinya. Karena itu ia pun akrab dengan problem sosial. Karena keseringan jengkel atas keadaan, terkadang ia lupa bahwa ia sedang hidup pada fase mechanical solidarity (Emile Durkheim, 1893). Di negara yang masih begini, hukum masih represif. Ia pun tak bisa menghindari saat kejengkelannya yang meletup akhirnya mengantarkan dirinya masuk penjara.

Mahbub yang lahir tahun ’33 memang manusia sepertiga putaran tasbih. Nalar, hati dan gerakannya simetris menginisiasi perubahan. Hatinya adalah agamanya yang mengagumkan: mengambil alih segalanya (Huston Smith: 1999)