Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di UNUSIA Jakarta

Retno Marsudi, sosok santun lima bersaudara ini dikenal sederhana, cekatan dan energik. Ayahnya, Mochamad Sidik yang sampai meninggal dunia adalah ta’mir masjid di lingkungannya di Semarang, adalah teladan keserhanaan bagi Retno Marsudi. Berkarir sebagai diplomat sejak 31 tahun yang lalu, saat ini Retno Marsudi mencapai puncak karir sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Pada saat ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama, Retno Marsudi menegaskan bahwa sebenarnya Indonesia sedangkan mengirimkan pesan kepada dunia.

“Islam, democracy dan woman empowerment dapat dilakukan pada saat yang sama.” Ujarnya.

Kepada Aung Saan Suu Kyi,  Retno Marsudi menyampaikan ‘Empat Plus Satu’ pesan Indonesia, yaitu mengembalikan perdamaian dan keamanan; menahan diri secara maksimal untuk tidak melakukan aksi kekerasan; memproteksi masyarakat di Rakhine tanpa memandang etnisitas dan agama; dan akses bagi bantuan kemanusiaan. Dan plus satu elemen yaitu Implementasi rekomendasi Kofi Annan.

Myanmar terbuka terhadap Kofi Annan dan Indonesia. Retno Marsudi melihat Aung San Suu Kyi menanggapi positif usulan Indonsia dan keduanya membahas lebih detail tentang bantuan kemanusiaan. Karena itu Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) dapat bergerak leluasa. Sejauh ini AKIM sudah melakukan aksi kemanusiaan di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Retno Marsudi akhirnya mendapatkan kepastian tentang akses bantuan kemanusiaan. Tersepakati, untuk bantuan kemanusiaan akan dipimpin oleh Pemerintah Myanmar dengan melibatkan Palang Merah Internasional dan beberapa negara termasuk Indonesia bersama ASEAN. Bahkan Aung San Suu Kyi menginisiasi untuk membentuk Komisi Khusus Rekomendasi Kofi Annan. Selanjutnya Retno Marsudi akan berkonsultasi dengan para Menteri Luar Negeri negara-negara ASEAN terutama tentang akses bantuan kemanusiaan.

Menghadapi krisis kemanusiaan di Myanmar, Retno Marsudi didaulat Presiden Jokowi untuk menjadi motor penggerak Indonesia untuk membantu mengatasi krisis tersebut. Terbang dari Jakarta dan sesampai di Myanmar langsung menggelar pertemuan maraton dari pagi sampai siang hari. Pertama, bertemu dengan Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar. Dilanjutkan bertemu dengan Aung Saan Suu Kyi. Kemudian bertemu sekaligus dengan tiga menteri yang memegang posisi sangat strategis, yaitu Menteri pada Kantor Presiden, Penasehat National Securty dan Menteri Muda Urusan Luar Negeri.

“Kedatangan saya ke Myanmar membawa pesan masyarakat Indonesia yang konsen terhadap masalah krisis kemanusiaan yang saat ini telah memakan banyak korban, yang meninggal dunia, luka-luka maupun orang orang yang meninggalkan tempat tinggalnya.” Kata Retno.

Persoalan Myanmar saat ini sangat kompleks. Berbeda dengan saat kedatangan Retno Marsudi ke Myanmar beberapa bulan lalu. Karena itu berbagai pihak harus ia temui untuk memastikan pesan Indonesia benar-benar sampai kepada para pejabat negeri itu.

“Kepada Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar saya menekankan pentingnya pemulihan stabilitas dan keamanan. Saya juga meminta agar perlindungan kepada semua orang dapat diberikan tanpa kecuali. Wisdom dan leadership dari pimpinan tertinggi militer sangat penting untuk memproteksi semua orang yang ada di sana, terutama muslim di Rakhine State dan terutama lagi untuk wanita dan anak-anak.” Tutur Retno.

Di tangan Retno Marsudi, diplomasi Indonesia di dunia internasional tampak menonjol  corak kemanusiaannya. Fokus Indonesia kepada masalah krisis kemanusiaan di Myanmar mengesampingkan isu-isu kepentingan pertambangan yang saat ini menyelimuti negara-negara maju. Isu kemanusiaan yang diusung Retno Marsudi di Myanmar ini bukan kali pertama. Sebelumnya misalnya, Retno Marsudi melakukan evakuasi warga Indonesia, terbesar jumlahnya dalam sejarah evakuasi, saat Yaman sedang didera konflik bersenjata. Begitu juga sentuhan Retno Marsudi terhadap WNI yang dipulangkan dari Malaysia karena mengalami overstay.

“Saya pernah dimintai tolong seorang ibu yang untuk mengisi formulirnya, saya tanya, ibu tidak bisa menulis? Dia jawab, tidak. Saya tanya, bisa membaca? Dia jawab, tidak. Coba bayangkan, mereka bekerja di luar negeri dalam keadaan tidak bisa baca tulis.” Cerita Retno Marsudi.

Mengemban tugas sebagai Menteri Luar Negeri tentu sarat tekanan problem bangsa dan dunia. Butuh stamina yang handal, baik fisik maupun psikis.

“Saat saya lelah, untuk mengatasi tekanan kerjaan, saya duduk di kursi, rileks, mendengarkan klenengan, ada kopi dan terkadang sambil nonton televisi melihat beberapa kasus disana, disini.” Tutur Retno. Untuk  menenangkan suasana, Retno memang selalu melengkapi ruang kerjanya dengan aroma daun pandan, bunga sedap malam, dan CD Klenengan.

Saat ini Retno Marsudi dikarunia dua putra, yakni Dyota Marsudi, 25 tahun, dan Bagas Marsudi, 21 tahun. Sang suami, Agus Marsudi adalah seorang arsitek alumnus Universitas Gadjah Mada. Atas kekuatan diplomasinya yang bercorak kemanusiaan, Menteri Luar Negeri Perempuan pertama ini layak disebut sebagai sosok Menteri Simbol Kemanusiaan.