Apa jadinya sebuah bangsa jika rezim yang berkuasa anti madrasah yang dikelola masyarakat? Ketika saya disodori naskah buku “Peradaban Islam” oleh penulisnya, Sulton Fatoni, sebelum diterbitkan, muncul di benak saya sebuah potret kronologi wajah peradaban Islam yang membentang sejak zaman Rasulullah saw hingga sekarang. Rentang waktu yang melahirkan persinggungan peradaban umat Islam dengan Yunani hingga dengan Barat. Dari persinggungan di atas kemudian melahirkan forum-forum kajian. Setiap tokoh berkompetisi melahirkan sebuah karya orisinil kemudian berupaya mempertahankan gagasannya secara ilmiah. Untuk menguji gagasannya di tengah publik, tiap-tiap dari mereka membuat forum kajian yang diperuntukkan bagi siapa saja yang berminat terhadap karya dan pemikirannya. Di forum tersebut diciptakan ruang diskusi, berdebat secara bebas dan ilmiah.

Dalam buku ini ditemukan tokoh sekaliber Hasan al-Bashri dengan forum kajiannya yang terkenal di Basrah. Buku ini juga menggambarkan pemikir Washil bin Atha’ yang membuka forum kajian tersendiri pasca aktifitasnya di forum kajian milik Hasan al-Bashri. Begitu juga direkam buku ini bagaima strategi jitu Abu Hasan al-Asyari “memasarkan” gagasannya. Membayangkan, bagaimana mungkin pemikir dan aktifis Mu’tazilah mampu keluar dari kungkungan komunitas Mu’tazilah yang kemudian membangun konsep baru yang pada generasi setelahnya dikenal dengan sekte Ahlussunnah wal Jamaah. Anda jangan kaget, itulah al-Asyari.

Dunia adalah pasar potensial yang cukup luas bagi perkembangan ilmu pengetahuan. jika suatu pasar berjalan secara baik maka akan terjadi transaksi yang sehat. Pada perkembangannya akan muncul sentra-sentra baru di sekitarnya. Semakin banyak sentra-sentra baru semakin memperkuat pasar induknya. Begitu juga sebaliknya jika pasar induk tersebut tidak tergarap dengan baik maka iakan sepi dan tidak ada lagi proses dialektika ilmu pengetahuan di dalamnya. Akibatnya kehidupan masyarakat akan lumpuh. Hal ini pernah dialami oleh Khalifah Harun al-Rasyid dari Dinasti Abbasiah yang kesulitan mencari pemikir teologi Islam. Ia menerima realitas kemiskinan intelektualitas sebagai akibat kebijakan Pemerintah yang tidak bersahabat dengan forum-forum kajian.

Fenomena dialektika ilmu pengetahuan di masa Islam klasik merupakan komitmen seorang ilmuwan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Pada saat itu setiap ilmuwan mempunyai forum kajian yang ia maksimalkan untuk mentrasformasikan keilmuan yang dimilikinya. Masyarakat pun mempunyai kesempatan luas untuk mengakses ilmu pengetahuan. Setiap ilmuan bergairah membuka ruang luas untuk bergabungnya para peserta pengajian. Forum kajian ini kemudian berkembang menjadi sebuah institusi pendidikan yang bebas dan independen. Sehingga madrasah (forum kajian) yang ada pada masa itu menjadi sebuah institusi pembelajaran yang benar-benar mandiri dan otonom serta mempunyai spesifikasi yang berbeda dengan institusi pembelajaran lain. Sederhananya, satu pemikir, satu madrasah dan satu corak pemikiran.

Pola pembelajaran seperti di atas juga terjadi dan berkembang di Indonesia. Seorang kiai biasanya membuka forum kajian di rumahnya sebagai sarana komunikasi dan proses pembelajaran bagi masyarakatnya dengan memilih bidang kajian yang menjadi kecenderungannya. Santri yang telah merasa cukup belajar biasanya pulang ke kampung halamannya dan mendirikan forum pengajian tersendiri untuk masyarakat sekitarnya. Dia pun memilih bidang kajian yang menjadi kecenderungannya. Pola ini teru berlanjut dan pada perkembangannya mewujud dalam sistem madrasah diniyah, lalu membesar menjadi pondok pesantren. Inilah jejaring intelektual pondok pesantren di Indonesia.

Sistem pembelajaran di Pondok pesanteren, madrasah-madrasah diniyyah yang memiliki keunikan dan berkarakter telah menawarkan nilai yang sangat berharga, yaitu pentingnya keteladanan. Terdapat guru, ustadz, kiai, mursyid yang telah lulus moralitasnya dan sudah memasuki level layak diteladani. Di sinilah urgensi madrasah diniyyah, pondok pesantren dan sejenisnya. Karena itu secanggih apapun sebuah sistem pembelajaran tidak akan berpengaruh secara maksimal terhadap proses pembentukan karakter jika mengabaikan peran pendidik. Maka jika madrasah atau sekolah ingin memperoleh hasil yang maksimal seharusnya penentu kebijakan memperhatikan faktor pendidik baik dari sisi keilmuannya maupun moralitasnya.

Buku “Peradaban Islam” ini masih di tataran pengantar. Sebagai kajian awal sangat membantu dijadikan langkah pertama memahami Islam.

~Said Aqil Siroj~