Beberapa waktu lalu Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar Pelatihan Untuk Pelatih Gerakan Nasional Revolusi Mental. Masyarakat tahu bahwa Revolusi Mental merupakan terma yang menjadi ikon era Presiden Joko Widodo. Kata ini pertama kali diucapkan oleh Presiden Soekarno pada 1963. Jika merujuk pada tahunnya tentu tahun ini adalah tahun gejala politik kebangsaan yang luar biasa. Di era dimana pertarungan ideologi sudah sedemikian akut. Pertarungan ideology antara Islam, Komunisme dan Nasionalisme.

Gerakan Nasional Revolusi Mental diungkapkan Presiden Jokowi pada saat Upacara HUT Korpri ke 43 pada tanggal 1 Desember 2014. Konsep ini diungkapkan untuk mengingatkan kembali Trisakti yang pernah disampaikan oleh Presiden Soekarno pada 1963, yaitu pilar Indonesia yang berdaulat secara politik, Indonesia yang mandiri secara ekonomi dan Indonesia yang berkepribadian secara sosial budaya.

Revolusi Mental dalam tulisan ini berarti perubahan yang relatif cepat dalam cara berpikir kita dalam merespons, bertindak dan bekerja. Revolusi yang dikehendaki adalah revolusi sejati yang berdampak besar dalam transformasi kehidupan harus mengandung kebaruan dalam struktur mental dan keyakinan. Revolusi sejati meniscayakan perubahan mentalitas yang lebih kondusif bagi perbaikan kehidupan. Sesungguhnya Tuhan tidak mengubah apa yang ada pada suatu bangsa hingga ia mengubah sendiri apa yang ada padanya (al-Quran 13:11).

Bangsa Indonesia sangat memerlukan Revolusi Mental sebab disinyalir kita sedang krisis karakter, intoleransi meningkat, Pemerintah ada namun tidak hadir dan rakyat yang selalu dianggap sebagai obyek pembangunan. Respons Pemerintah dianggap lamban dalam menyelesaikan masalah sehingga masyarakat sering menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri. Ke depan, Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat dan bersama masyarakat. Pemerintah dengan warga yang mayoritas muslim Ahlussunnah wal Jamaah yang berprinsip nilai-nilai moderat, toleran, harmoni, konsisten dapat selalu hadir dalam mewujudkan kebaikan.

Sesungguhnya Tuhan telah mendorong umat Islam agar mampu menjadi saksi atas perbuatan umat manusia (al-Quran 1:143). Umat Islam dapat menjadi teladan dalam gerakan Revolusi Mental apabila ia terlibat aktif dalam proses mewujudkan spiritualitas Islam. Pada tataran konkret, umat Islam peduli untuk menyelesaikan permasalahan sosial.

Kebaikan bersama hanya bisa terwujud dengan cara tunduk dan melaksanakan segala macam produk hukum. Ketertundukan itu kendali yang terdiri dari kendali agama, kekuasaan dan alamiah. Ketiga kendali ini menjadi parameter bagi kesuksesan Revolusi Mental.

Terdapat tiga nilai Revolusi Mental yang perlu diperhatikan, yaitu integritas, etos kerja dan gotong royong. Revolusi Mental menyasar kepada pembentukan pribadi yang mempunyai komitmen kuat dalam menjalankan tugas dengan berlandaskan kepada kejujuran, komitmen, konsisten, obyektif, berani, disiplin dan bertanggung jawab.

Sedangkan etos kerja menyasar kepada pembiasaan manusia untuk bekerja sesuai dengan nilai-nilai agama sehingga tercipta kebaikan bersama. Nilai gotong royong berorientasi pada pembentukan karakter bekerjasama, saling menghormati, kerendahan hati dan saling memuliakan untuk mewujudkan kebahagiaan bersama.

(sumber: Gerakan Nasional Revolusi Mental)