Sebagian umat Islam di penjuru dunia saat ini sedang melaksanakan ibadah haji. Jumlah muslim penjuru dunia yang melaksanakan ibadah haji pada 2017 ini sebanyak 2,1 juta orang. Saudara kita di tanah air Indonesia pun telah berangkat ke Kota Makkah sejak beberapa pekan lalu. Khusus dari Indonesia, yang berangkat haji tahun 2017 sebanyak 221.000 orang. Angka terbanyak kedua dari seluruh negara di dunia.

Tentu saja Makkah dan sekitarnya saat ini penuh sesak. Padahal Pemerintah Arab Saudi sudah menerbitkan regulasi agar musim haji tidak terlalu sesak sehingga pelaksanaan ibadah haji bisa berjalan nyaman. Namun ibadah haji memang telah menjadi magnet tahunan bagi setiap muslim yang merasa mampu melaksanakan dan bergairah dalam beragama. Bagi seorang muslim yang telah mampu, cukup memenuhi syarat, memang harus melaksanakan ibadah haji. Lalu adakah kaitan antara ibadah haji dengan takdir?

Keterkaitan antara takdir dan kewajiban haji secara apik dijelaskan oleh KH A. Nawawi Abdul Djalil dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan dalam bukunya, “Dimanakah Allah?” Seorang muslim harus meyakini qadha’ dan qadar Allah Swt. Akan tetapi secara hakikat seorang muslim tidak tahu takdirnya di waktu-waktu mendatang. Misalnya, apakah ia ditakdir bisa melakukan haji atau tidak?

Di sisi lain seorang muslim juga diperintah melaksanakan syariat Islam secara maksimal. Semua kewajiban syariat Islam harus dipatuhi dan dilaksanakan dengan sepenuh hati tanpa harus mengetahui takdirnya. Jika bisa melaksanakan maka harus diyakini bahwa Allah telah mentakdir demikian dan hendaknya disyukuri.

Seseorang yang meremehkan kewajiban kemudian dan tidak melaksanakannya berarti telah melanggar ajaran Islam dan berdosa. Karena itu seorang muslim yang mampu dan memenuhi syarat untuk melaksanakan haji kemudian ia meremehkan perintah haji tersebut, seperti menunda-nunda keberangkatan hingga akhirnya ia meninggal dunia sebelum melaksanakan haji maka ia telah melakukan dosa besar dan dikuatirkan mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani (KH. Nawawi Abdul Djalil, 2011).