Oleh Sumanto Al Qurtuby (Dosen di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Saudi Arabia)

Jika berbagai kelompok Islam di Indonesia hiruk-pikuk menentang pembantaian kaum Muslim Rohingya di Myanmar yang dilakukan oleh kelompok radikal ekstrimis Buddha (MaBaTha / 969), maka tidak ada sejentil makhluk pun di Indonesia yang bersuara lantang atas kebrutalan dan genosida atas kaum Muslim di Darfur di Sudan Barat yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh milisi “Arab Sudan”.

Sejak Februari, 2003, hingga sekarang (14an tahun), Darfur dilanda perang sipil mengerikan yang, menurut catatan PBB telah menyebabkan lebih dari setengah juta orang tewas dan jutaan orang hidup terlunta-lunta dalam pengungsian.

Tragedi kelam itu bermula dari perlakuan buruk rezim pemerintah Arab-Sudan atas warga Darfur di bawah pemimpin diktator yang bengis dan rasis yang oleh International Criminal Court dijuluki “si penjahat perang” bernama Presiden Omar al-Bashir.

Darfur yang berarti “rumah orang/etnis/suku Fur” adalah kawasan non-Arab Muslim di Sudan bagian Barat yang berjumlah sekitar 7 juta jiwa. Selama ratusan tahun, Darfur merupakan kesultanan independen sebelum digabung ke Sudan oleh rezim Anglo-Mesir pada tahun 1916. Sejak Sudan merdeka tahun 1958, bibit-bibit permusuhan, diskriminasi, antipati, dan kekerasan terhadap warga Darfur sudah muncul tetapi baru meledak dalam perang sipil yang brutal dna masif sejak tahun 2003.

Rezim Sudan sendiri adalah “rezim Arab-Afrika” (“Arab Sudan”) yang memang sejak lama tidak menyukai etnis non-Arab Darfur (dan lainnya seperti Zaghawa, Masalit, Dinka, Nuer, Beja, dlsb). Karena perlakuan diskriminatif rezim pemerintah inilah, sejumlah kelompok di Darfur membentuk “kelompok milisi-separatis” bernama Sudanese Liberation Movement dan Justice and Equality Movement. Ini persis seperti Rohingya yang juga membentuk sejumlah kelompok milisi-separatis sejak 1998 (seperti Arakan Rohingya Islamic Front, Arakan Rohingya Salvation Army, dlsb).

Dengan alasan menumpas kelompok milisi-separatis inilah, rezim Sudan membentuk kelompok milisi “Janjaweed” yang direkrut dari kelompok militan-radikal Arab dan dipersenjatai oleh pemerintah Sudan. Sementara kelompok milisi di Darfur terdiri atas sejumlah etnik non-Arab Muslim seperti Fur, Zaghawa dan Masalit.

Perang sipil sesama kaum Muslim Arab-non Arab ini telah menyulap Darfur menjadi “ladang pembantaian” mengerikan dalam sejarah kemanusiaan modern. Warga Darfur bukan hanya dibunuh oleh milisi Janjaweed tetapi juga para perempuannya diperkosa, properti mereka dijarah, rumah-rumah mereka dibumi-hanguskan. Sampai sekarang, jutaan manusia hidup dalam pengungsian, sebagian di negara-negara tetangga seperti Chad, Uganda, Republik Afrika Tengah, dlsb. Sebagian lagi tinggal di gurun-gurun, baik dengan atau tanpa tenda.

Kisah tragis Darfur menunjukkan bahwa jargon “umat Islam bersaudara” adalah omong-kosong! Dalam realitasnya, umat Islam masih loyal dengan identitas etnik dan suku mereka (sebagai orang Arab, orang Turki, orang Kurdi, orang Iran, orang Afgan, orang Bengali, orang Gujarati, orang Malay, dan seterusnya) ketimbang agama mereka (orang Islam atau Muslim).

Jika ada sejumlah kelompok Islam di Indonesia yang bergemuruh membela Rohingya, bukan lantaran karena ikatan “persudaraan Islam” (apalagi “persaudaraan kemanusiaan”) tetapi lebih karena sang pembantai dan penjagal Muslim Rohingya adalah kelompok “Buddha kafir Burma”, bukan “Muslim Arab-Sudan”.

Jabal Dhahran, Arabia