oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Siang itu Kota Sragen diguyur hujan. Bumi membasah. Langit tampak pucat terselimuti awan yang menghitam.  Kesibukan Kota surut dan cukup lengang. Namun di sisi Kota tampak sebuah Pondok Pesantren Walisongo yang sedang sibuk. Satu persatu anak muda dari berbagai penjuru kota dan kecamatan di Indonesia berdatangan memasuki pesantren tersebut. Mereka adalah para pegiat sosial yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama Care. Mereka concern terhadap isu-isu problem kemanusiaan. Kepedulian mereka terhadap sesama dengan cara memaksimalkan dana sosial dan Islam seperti CSR, Zakat, Infaq, Sedekah (ZIS) dan lainnya.

Kota Sragen dipilih menjadi tempat konsolidasi Nasional NU Care mengingat para pegiat sosialnya mencatatkan prestasi fantastis di tahun 2017. Sekedar mengilustrasikan, mereka melaunching gerakan Kotak Infaq—kemudian populer dengan sebutan Koin NU—bersama KH Said Aqil Siroj di pertengahan 2017 dan diakhir 2017 berhasil mengumpulkan dana sosial sebanyak 5.8 miliar rupiah. KH Ma’ruf Islamuddin, Tokoh gerakan perubahan setempat pun akhirnya makin leluasa menyusun agenda perubahan. Di antaranya menguatkan kelompok-kelompok usaha masyarakat dengan cara pinjaman modal dan pembinaan. Di penghujung Januari 2018 NU Care Sragen juga memulai pembangunan Rumah Sakit.

Gerakan perubahan NU Care  tampak sistematis, inovatif, bergaya massal tanpa kehilangan kesederhanaan dan keceriaan. Program Koin NU misalnya, di samping memproduksi empat puluh ribu kotak Koin NU dalam bentuk yang mungil, NU Care Sragen juga membuat kotak besar berukuran 99 cm yang diarak dari kampung ke kampung. Mereka menyebutnya dengan Kirab Koin NU yang menelusuri jalanan antarkecamatan Kabupaten Sragen.

Di Sragen inilah tampak kekuatan gerakan sosial NU Care di seluruh Indonesia. Setiap daerah mempunyai gaya dan inovasi sendiri. NU Care Banyumas misalnya, tampak kuat dan piawai masuk ke dalam struktur birokrasi. Sedangkan NU Care Lampung Timur piawai mengelola jasa keuangan mikro. Berbeda pula langgam NU Care Bantul, Sumenep, Jombang dan lainnya. Akhir 2017  mereka telah mengelola dana sosial mendekati angka 250 miliar rupiah.

Gerakan sosial secara sistematis muncul di kalangan muslim tradisional sejak 1979 di Semarang saat aktivitas politik mereka beralih ke aktivitas yang berorientasi sosial. Para aktivis muslim tradisional saat itu berkomitmen di masa mendatang akan memberikan tekanan lebih terhadap aktivitas sosial. Kemunculan Gus Dur, KH Sahal Mahfudh dan KH Yusuf Hasyim mampu menguatkan sentrum gerakan sosial dalam tubuh muslim tradisional. Gagasan-gagasan Paulo Freire dan Ivan Illich mulai dikenalkan termasuk merancang aktivitas sosial yang disponsori oleh Eropa (Martin van Bruinessen, 1997).

Kini gerakan perubahan yang diinisiasi kalangan muslim tradisional semakin meluas dan masif. Ma’ruf Islamuddin (2018) meyakini NU Care Sragen menjadi role model gerakan perubahan tersebut. Bermula dari Gus Durlah keyakinannya terpatri. Katanya, saat berkunjung ke Sragen, Gus Dur pernah mengatakan bahwa keberhasilan gerakan perubahan yang diinisiasi pegiat Nahdlatul Ulama suatu saat akan berhasil dan itu berawal dari Sragen. Sejarah gerakan perubahan ini tampaknya dilanjutkan KH Said Aqil dengan meresmikan ‘Gerakan Nasional Koin NU’ di Sragen pada bulan April 2017 lalu (foto:antaranews).

Sragen, 29 Januari 2018