Saya bahagia memberikan pengantar untuk sebuah buku yang berjudul “Kapital Sosial Pesantren” karya Sulton Fatoni ( https://arahperubahan.com/gerai/kapital-sosial-pesantren/ ) karena beberapa alasan. Pertama, saya beragama Katolik yang tidak banyak tahu tentang Pesantren. Ini buku kedua tentang pesantren yang saya baca secara serius, setelah buku terkenal Clifford Geertz mengenai Religion of Java. Dengan membaca buku ini saya diantar masuk ke satu dunia yang mirip suatu “total institution” (Erving Goffman), serba teratur, rapi, dan memperlihatkan corak hidup yang lain sama sekali dari dunia luar. Di dalam institusi ini hidup Kiayi (seorang) yang memiliki spiritualitas tertentu dan menanamnya dalam suatu struktur pendidikan yang menunjukkan relasi Guru – Murid, yang diduga cenderung feodalistik, tetapi rupanya tidak demikian menurut pengakuan seorang informan. Dalam pendidikan Katolik, pola yang mirip pesantren dapat ditemukan dalam pendidikan Seminari  (calon-calon pastor) yang dijalankan dengan model “total institution” juga, sekurang-kurangnya seperti yang saya alami ketika menjadi seminaris di tahun 1960-an. Yang sama dari kedua sistem pendidikan itu adalah pembinaan rohani, sistem pembelajaran yang ketat, tanggungjawab komunitas, sehingga dapat menghasilkan siswa yang mampu mandiri. Perbedaannya cukup hakiki yakni porsi kurikulum di Pesantren yang didominasi oleh agama. Di Seminari Menengah (tingkat SMP dan SMA), kurikulum yang berlaku di tingkat nasional, berlaku pula di Seminari, ditambah bahasa Latin yang sangat sulit.

Kedua, judul buku itu sesuai dengan bidang minat sampingan saya yakni Kapital Sosial dan studi pedesaan. Buku ini berawal dari Tesis S2, yang dalam tampilan bentuk buku diperkaya lagi dengan beberapa isu yang menarik perhatian saya seperti pesantren dan pedesaan, pesantren dan kultur Jawa, pesantren dan ekonomi. Sulit membayangkan desa di Jawa umumnya dan Sidogiri khususnya tanpa pesantren. Kehadirannya jelas, malah menjadi kiblat sosial masyarakat. Di beberapa tempat di tanah air ada kota santri. Orang-orangnya hidup dalam suatu suasana seragam seolah-olah dikomandoi oleh Pesantren untuk apa yang harus mereka lakukan dari detik ke detik. Penulis buku ini nampaknya larut dalam satu pengaruh Pesantren yang positif saja. Semuanya bagus. Mungkin sulit menemukan hal-hal yang negatif dari kehadiran Pesantren Sidogiri. Namun demikian, akhir-akhir ini ada pesantren tertentu yang tidak menunjukkan citra seperti Pesantren Sidogiri.

Ketiga, ketika saya membaca buku ini, terutama karena saya beragama Katolik dan berasal dari daerah Manggarai di Flores NTT, terlintas dalam pikiran dan perasaan saya tentang satu konsep dalam liturgi Katolik yang disebut dengan istilah inkulturasi. Konsep ini bukan konsep antropologik, walaupun tidak ada salahnya kalau digunakan oleh Ilmu Antropologi sebagai salah satu kajiannya. Inti dari inkulturasi adalah pertemuan antara kebudayaan setempat dengan ajaran agama tertentu yang membuat agama itu bercorak lokal. Kalau di Pesantren Sidogiri pengaruh budaya Jawa hanya sebatas doa untuk orang mati dan selamatan (jiwa-jiwa menjadi pendoa dan perantara manusia – Tuhan), inkulturasi dalam agama Katolik itu masuk dalam liturgi Ekaristi, dengan memberi tata gerak, busana, nyanyian dan bahasa yang bercorak adat istiadat, sehingga upacara ritual itu tidak saja sakral secara substansial teologik, melainkan juga menyentuh rasa budaya yang paling dalam. Malah dalam bentuk gereja sekalipun, unsur budaya ini memberikan warna khusus. Liturgi inkulturatif biasanya menarik dan sekaligus mencengangkan. Adat diangkat menjadi sarana keselamatan.

Keempat, sejak saya kuliah sosiologi di Universitas Indonesia, ada semacam gerakan dalam Islam di Indonesia untuk melakukan kajian analogik Islam dan Ekonomi di Indonesia, seperti halnya Protestantisme dan Kapitalisme di Eropa (Max Weber). Secara ekstrim tesis Weber itu menghasilkan kapitalisme rasionalistik yang menimbulkan kesenjangan sosial. Walaupun Penulis buku ini tidak menjelaskan secara obyektif ekonomi syariah, sekurang-kurangnya dia sudah mengingatkan kita akan bahaya kapitalisme dan bahaya dari agama itu sendiri yang bisa terjerumus pada praktek ekonomi, politik atau malah terorisme.

Kelima, karena buku ini langsung mengaitkan Kapital Sosial dan Pesantren (Sidogiri), perlu memberikan sedikit komentar mengenai hal ini. Satu, Pesantren Sidogiri adalah sebuah komunitas religius. Basis legitimasinya kuat sekali. Dia menjadi positif karena Kapital Sosial yang tertambat langsung dengan komunitas itu mewujud dalam integrasi sosial sangat tinggi yang dalam istilah Durkheim bersifat mekanik. Untuk pembangunan dia menjadi sangat penting. Di Pesantren Sidogiri, integrasi sosial mekanik itu dipersonifikasikan ke satu orang Kiyai. Karena itu, integrasi sosial itu bisa menjadi negatif untuk orang luar, terutama kalau tidak satu aliran dengan Pesantren itu. Dua, Alumni Pesantren Sidogiri berdiri di luar struktur, yang memungkinkan dia (mereka) bisa bergerak lebih leluasa dalam menghadapi realitas sosial rumit, tidak sesederhana di Pesantren. Mereka ini dapat memainkan peran untuk membuka jaringan yang dapat menjembatani dunia luar dengan dunia dalam yang dibawanya dari Pesantren Sidogiri. Hubungan saya (sebagai dosen, orang Katolik dan Manggarai Flores) dengan para almuni yang menekuni sosiologi pada jenjang S2 atau S3, adalah Kapital Sosial yang dibentuk dan dikembangkan oleh para alumni ini. Jaringan yang terbentuk masih ada hingga saat ini. Sesewaktu mereka hubungi saya untuk keperluan sesuai kompetensi saya, dan di situlah Kapital Sosial berkembang dan bermanfaat untuk suatu hidup multikultur.

Tiga, Saya yakin kekuatan Kapital Sosial (baik bonding maupun bridging) memancar sangat kuat dari kampus itu. Perlu suatu kajian yang komprhensif tentang perannya dalam pembangunan tidak saja dalam bidang ekonomi, melainkan juga dalam politik dan kehidupan berbangsa pada umumnya.

Buku ini memang tidak terlalu ilmiah, tetapi enak dibaca. Dia bisa “mengantar” kita ke Pesantren Sidogiri dan “menunjukkan” kepada pembaca isi dari kampus itu dan akhirnya “mengantar” kita kembali keluar melalui jalan lain lewat alumni dan kegiatan-kegiatan mereka.

Selamat membaca.

Prof. Dr. Robert M.Z. Lawang