Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi unusia.ac.id)

Seorang pengemudi taksi di Kuala Lumpur Internasional Airport bercerita bahwa dirinya sudah menunggu sejak dinihari dan baru mendapatkan seorang penumpang pukul delapan pagi. Dia menuduh taksi online yang menjadi biang kesuraman bisnis jasanya. Sementara Pemerintah ia nilai acuh terhadap problem yang dihadapi para supir taksi. Tak jauh dari lokasi tersebut juga terdapat Kedai Kopi serba berpenampilan lokal yang juga sepi.

Di tempat lain, terdapat restoran cepat saji asal Amerika, beroperasi di Kuta Bali, waitressnya orang lokal, pembelinya orang Tiongkok. Waitress itu tampak riang seakan mengekspresikan kebahagiaan menyaksikan orang-orang Tiongkok yang antri mengular. Suasana tak jauh beda tampak pada satu toko buku di Depok. Tak sedikitpun terlihat celah sepi pada toko buku ini.

Taksi konvensional seakan tak punya masalah saat taksi online masih berbasis komunitas. Problem besar seakan melanda mereka saat pemilik modal berinvestasi di bidang transportasi berbasis aplikasi digital. Jika isu yang mencuat adalah kematian bisnis taksi, sejatinya yang terjadi adalah gurita bisnis jasa transportasi. Contoh, dulu kita pesan taksi harus melalui kerumitan dan menunggu minimal tigapuluh menit, saat ini rata-rata tak lebih dari lima menit. Maka sesungguhnya bisnis transportasi tak pernah punya masalah. Mereka hanya bertransformasi seiring kemajuan teknologi informasi.

Pemilik modal tak pernah kalah. Mereka makhluk tercerdas dalam berinovasi bisnis. Mereka juga mempunyai indera keenam sehingga mampu melakukan adaptasi demi pengembangan usahanya di masa depan.

Lalu bagaimana dengan proses disrupsi yang sedang terjadi? Kata disrupsi hanya populer di kalangan konsultan, motivator bahkan akademisi. Realitasnya disrupsi itu tidak ada. Fenomena yang terjadi adalah konstruksi bisnis masa depan yang sedang berproses melalui teknologi digital sebagai akibat dari permintaan konsumen yang tinggi. Pemilik modal sedang melakukan adaptasi untuk memenuhi harapan pelanggan dan mewujudkan kinerja yang lebih baik (Lee dan David, 2004).

Pemilik modal sedang merengkuh pasar global, sedangkan di luar sana menangkapnya sebagai wacana disrupsi. Mengokupasi pasar dengan cara mengorbankan entitas bisnis tertentu dan–anehnya–dilegitimasi oleh teori ‘disrupsi’.

Kuala Lumpur, 9 Maret 2018