Oleh Suratno ( Dosen Sosiologi Antropologi Universitas Paramadina Jakarta)

Data di internetworldstats tahun 2015 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia sekitar 75 juta orang. Ini jumlah yang besar. Tahun 2017 sekarang pasti lebih besar lagi. Sayangnya dari jumlah yang sangat besar itu, aktivitas “internet positif” hanya 28% saja.

Artinya 72% aktivitas user di Indonesia adalah “internet negatif”. Termasuk didalamnya penyebaran dan propaganda ideologi ekstrimis-teroris yang sangat murah, mudah, jangkauannya luas dan sangat privasi.

Tidak hanya penyebaran dan propaganda ideologi ekstrimis-teroris, tapi internet juga menjadi alat komunikasi yang memudahkan kelompok ekstrimis-teroris untuk mengatur rencana, memberi arahan, mencari dana, mengontrol maupun interaksi sesama anggota kelompok itu.

Paparan tersebut di atas baru yang oleh anggota aktif atau yang telah direkruit, belum lagi yang pasif.

Penyebaran ideologi ekstrimis-teroris makin massif lagi karena di Indonesia situs-situs terkait ekstrimisme-terorisme disebarkan oleh para simpatisan via email, Whatsap grup, instagram, line, facebook, twitter dan lainnya.

Bisa dibayangkan kan betapa bahayanya potensi radikalisasi melalui internet.

Secara sosiologis masyarakat kita juga bukan masyarakat pembaca (a reader society) dengan daya kritis yang baik. Jadi masyarakat secara umum lebih mengakses dan menyebarkan informasi yang mereka senangi. Termasuk juga informasi yang dianggap benar. Masyarakat malas mencari konter narasi, info pembanding, cover-both-sides. Bahkan mereka malas juga untuk lebih religius yakni bertabayyun.

Menjawab problem-problem diatas mau tidak mau terdapat tiga hal yang harus digaungkan kepada masyarakat, yakni; internet-sehat, media-literacy dan critical-thinking.