Saya mengunjungi peternakan sapi di satu desa di Nongkojajar Pasuruan. Nongkojajar termasuk daerah cukup menggeliat ekonominya, salah satu sumbangsih geliat ekonominya adalah susu sapi kualitas baik sebagai bahan utama susu kemasan yang sudah beredar di pasaran. Mula-mula mereka melakukan aktifitas ekonomi secara individual. Tahap selanjutnya mereka berkelompok sesama peternak.  Pada saat bisnis dinilai prospektif lalu hadir pemodal untuk memberikan pinjaman. Modal itu pun mereka kelola dengan baik hingga membentuk Koperasi untuk kepentingan bisnis susu sapi mereka.

Saya menemui seorang peternak yang sudah mempunyai 20 sapi perah dan beberapa sapi untuk pengembangbiakan. Di beberapa rumah yang lain, ada yang punya tiga sapi, empat sapi dan seterusnya. Duapuluh sapi tersebut diletakkan dalam satu kandang besar dengan dengan tiga bagian: koridor untuk kontrol dan tempat makanan sapi, tempat istirahat dan tempat buang kotoran. Sontak saya teringat satu peternakan sapi yang saya kunjungi di Brignon, desa berjarak 30 Km di luar kota Paris. Kandang sapi di sana terdapat empat bagian: koridor untuk kontrol plus tempat makanan sapi, tempat istirahat dan tempat buang kotoran.

Setting ruangannya berbeda meski fasilitasnya sama: ada tempat istirahat, musik, tempat makanan dan tempat buang kotoran, kecuali tempat garuk-garuk (relaksasi), Di Nongkojajar tak da, di Brignon ada. Hanya yang membedakan adalah keleluasaan sapi. Di Brignon kondisi sapi tidak diikat sehingga dia bebas jalan-jalan seluas tempat yang disediakan. Sedangkan di Nongkojajar kondisi sapi terikat sehingga ia tak bisa bergerak leluasa kecuali makan dan duduk. Perbedaan juga tampak saat buang kotoran: di Brignon, tempat istirahat sapi relatif steril. Matrasnya relatif bersih karena si sapi yang akan membuang kotoran secara naluri menuju ke tempat kotor persis di belakangnya yang include dengan tempat berdiri saat ia makan. Sedangkan di Nongkojajar matras tempat sapi istirahat kotor karena nyaris bercampur dengan tempat sapi buang kotoran.

Kondisi sapi juga berbeda. Di tempat yang saya kunjungi, sapi perah di Nongkojajar tampak kurus. Sedangkan di Brignon sapi perah tampak berisi. Saat saya tanya kok kurus, peternak menjawab, “untuk sapi perah memang kondisinya tampak kurus namun sehat.” Saya berpikir, bukankah kalau tampak berisi makin banyak menghasilkan susu? Ah, saya tidak mengerti.

Walhasil, desa-desa di Nongkojajar memang punya keunggulan. Dan saya yakin di hari-hari mendatang, cara mereka beternak sapi mereka makin baik dan semoga lebih baik dibanding peternak para bule itu.