oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Pernah berkunjung ke Damnoen Saduak Floating Market di Thailand? Atau Floating Market di Lembang Bandung? Jika ingin melihat suasana Pasar Apung sesungguhnya yang lebih magis dengan alam yang lebih menantang, perlu berkunjung ke Pasar Apung Kuin di Muara Sungai Barito. Jika ingin suasana yang lebih tenang, bisa mengunjungi Pasar Apung Lok Baintan di Sungai Martapura. Keduanya di Kalimantan Selatan.

Pagi masih gelap. Speed Boat tampak melaju kencang dari pinggiran kota Banjarmasin menuju dua lokasi pasar apung, yaitu Kuin dan Lok Baintan. Sesampai di Pasar Apung Kuin, para pedagang sudah tampak sibuk mengayuh perahu menjajakan barang dagangannya. Sesekali tangan mereka menahan perahu koleganya yang tampak mengarah kepadanya agar tidak berbenturan.

Pagi itu Pasar Apung Kuin cukup ramai meski tidak sampai berdesakan. Di tengah sungai itu, ditemukan juga para pengunjung pasar ‘ngopi’ dan menikmati aneka jajan pasar sambil dimanjakan oleh perahu yang bergoyangan karena riak air. Beberapa kilometer dari Pasar Apung Kuin terdapat pula Pasar Apung Lok Baintan. Rupanya para pedagang lebih tertarik beraktifitas di Pasar Apung Lok Baintan. Di pasar ini suasananya lebih ramai. Aneka barang yang dijual pun lebih banyak. Lalu lalang perahu pedagang lebih sibuk.

Pedagang di dua pasar ini awalnya menggunakan sistem barter. Karena unsur double concidence of want yang tinggi maka pedagang berasal dari berbagai daerah dengan berbagai varian produk. Beberapa pedagang di Pasar Apung Lok Baintan misalnya, berasal dari sautu desa yang lokasi antara lima sampai lima belas kilometer dari pasar. Aktivitas perekonomian di tengah sungai ini juga melibatkan pedagang pasar darat. Biasanya mereka membawa mobil dan membeli barang-barang di Pasar Apung untuk selanjutnya ia jual di pasar tradisional di daratan.

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini di kedua Pasar Apung itu sudah mengenal uang sebagai alat transaksi. Keunikan yang Pasar Apung miliki juga telah mengundang wisatawan dari berbagai daerah. Meskipun begitu, Pasar Apung ini belum tersentuh kemajuan pembangunan. Semua masih tradisional. Lalu apa yang bisa dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan kemakmuran para pedagang Pasar Apung?

Beberapa hal bisa dilakukan Pemerintah, diantaranya subsidi transportasi. Pedagang Pasar Apung ini masih menggunakan dayung untuk menggerakkan sampannya. Saat usai beraktifitas di lokasi Pasar Apung, mereka pulang dengan cara sampan-sampan mereka ditarik perahu mesin dengan membayar sejumlah uang. Pemerintah perlu menyediakan subsidi transportasi di sektor ini dengan cara menyediakan speed boat gratis yang menarik sampan-sampan itu sampai ke tempat tinggal para pedagang tersebut.

Pemerintah juga bisa membantu permodalan para pedagang. Barang dagangan didominasi oleh hasil bumi, seperti buah-buahan, sayur mayur dan lainnya. Pemerintah bisa membantu permodalan untuk meningkatkan hasil produksi pertaniannya. Pemerintah bisa juga membantu tenaga penyuluh pertanian untuk meningkatkan kualitas hasil panennya.

Sektor lain yang bisa dilakukan Pemerintah adalah melibatkan para pedagang Pasar Apung dalam mengelola pariwisatanya. Para pedagang disamping sebagai obyek wisata Pasar Apung juga diposisikan sebagai subyek. Keuntungan dari sektor wisata Pasar Apung ini bisa digunakan untuk meningkatkan kemakmuran para pedagang.

Keterlibatan yang paling penting adalah kehadiran Pemerintah di Pasar Apung untuk melindungi hak-hak pedagang Pasar Apung dari kekuatan liar yang biasa muncul di pasar-pasar. Pemerintah harus melibatkan perwakilan pedagang Pasar Apung di setiap perundingan dan kebijakan yang berkaitan dengan keberadaan Pasar Apung. Langkah ini untuk menghindari situasi yang pernah digambarkan Karl J. Pelzer (1978)–jika ia memang benar–bahwa kekuasaan kolonial Belanda pernah dalam satu kasus mampu melindungi hak-hak masyarakat dari intimidasi para penguasa lokal