Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Pagi hari dua pesawat dari Jakarta sudah mendarat di Bandar Udara Internasional Juwata. Jalanan kota mulai tampak sibuk dipenuhi mobil berbagai merk. Begitu juga Pelabuhan Tengkayu yang ramai melayani aktifitas masyarakat ke berbagai wilayah sekitar. Menjelang petang hari, para penumpang kembali memadati Bandar Udara untuk kembali ke Jakarta Suasana aktifitas masyarakat ini terjadi di Pulau kecil bernama Tarakan. Bagi yang belum pernah datang ke Pulau Tarakan, perlu jeli melihat peta Indonesia. Arahkan pandangan ke ujung utara Pulau Kalimantan. Luas Pulau ini 250,8 kilometer persegi, dua kali lebih kecil dari daratan Singapura. Sekarang berpenduduk tak lebih dari 250 ribu jiwa.
Sejak tahun 1997 Pulau ini diresmikan menjadi Kotamadya Tarakan. Perkembangan Kota Tarakan bak kota-kota di Jawa. Bahkan dalam beberapa hal, Tarakan maju beberapa langkah. Letaknya yang strategis menjadikannya sebagai kawasan feeder bagi aktifitas ekonomi daerah-daerah di sekitarnya seperti Sesayap, Berau, Malinau hingga Nunukan. Para bisnisman yang mengembangkan usahanya di kawasan Kalimantan Utara sulit menghindari Kota Tarakan. Industri jasa pun tumbuh dan berkembang. Kondisi ini mampu menarik perusahaan-perusahaan besar untuk berbisnis di Tarakan.
Menyusuri jalan kota Tarakan akan menemukan kantor perusahaan-perusahaan besar. Di sektor minyak dan gas misalnya, Kantor Pertamina tampak mentereng di pinggir jalan dengan lokasi yang strategis. Begitu juga perusahaan lainnya seperti Medco, Sucofindo, Trakindo, Toyota, Gramedia, dan perusahaan-persauhaan lain yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit, batubara, kayu, dan sebagainya. Capaian Kota Tarakan ini membuat Bank Indonesia juga telah membuka kantor perwakilannya di Kota Tarakan. Meski Kota Tarakan berjarak 2.637 km dari Ibukota Jakarta, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Tarakan sama dengan di Jawa. Penduduk yang berdagang Premium eceran menjualnya sepuluh ribu rupiah perliter.

Pertumbuhan Kota Tarakan berbeda dengan proses di Kota Batam yang tumbuh karena kebijakan politik Free Trade Zone. Kota Tarakan juga berbeda dengan Kota Mandalika, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Morotai yang tumbuh kembang karena kebijakan Politik ‘Kawasan Ekonomi Khusus’. Kota Tarakan selama ini tumbuh secara alami karena kandungan alam yang dimilikinya dan posisinya yang strategis.

Memperhatikan Kota Tarakan era kini justeru karakternya dekat dengan Negara Kota Singapura. Kota Tarakan didiami aneka etnis, begitu juga Singapura. Kota Tarakan menjadi feeder barang dan manusia bagi daerah-daerah sekitarnya, begitu juga Singapura sebagai kota pelabuhan entrepot. Masyarakat Singapura yang dari berbagai etnik dipersatukan oleh pasar yang terintegrasi dengan ekonomi dunia dan regional (Dieter Evers, 2000) begitu juga masyarakat Tarakan yang tertib usaha dan jasa.

Jika memperhatikan potensi dan letak strategis Kota Tarakan berikut sejarah panjangnya maka di era kini cukup layak mendorong Kota Tarakan agar mampu melakukan lompatan kemajuan. Salah satu upayanya adalah Pemerintah memasukkan Kota Tarakan sebagai ‘Kawasan Ekonomi Khusus’. Membangun kota melibatkan banyak sumberdaya, bentuk kota, tidak bisa dikatakan sebagai hasil dari kondisi yang sepenuhnya kebetulan dan tidak pula sebagai hasil dari kondisi yang obyektif. Paling mungkin adalah bahwa bentuk kota, konstruksi utama yang membentuk struktur sosial, ruang dan simblis kota merupakan hasil dari perencanaan dan kordinasi (Dieter Evers, 2000). Perhatian Pemerintah bukan mustahil menjadikan Kota Tarakan is A Little Singapore.

~Tarakan, Maret 2018