Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Mentari pagi baru saja tampak di ufuk timur. Masyarakat Suku Sasak di Dusun Sade Rembitan Lombok Tengah memulai kembali aktivitasnya. Seorang Pemuda–sebut saja Munaris–tampak menenteng wadah berisi kotoran kerbau yang masih baru. “Masih hangat.” Ujarnya sambil tersenyum. Kemudian ia tuangkan sedikit air ke dalam wadah tersebut sebagai campurannya lalu ia bersihkan lantai rumahnya dengan tehnik menggosok-gosokkannya secara merata.

Masyarakat yang belum mengetahui tradisi masyarakat Sasak di Sade tentang kegunaan kotoran lembu tersebut tentu bertanya-tanya. Misalnya, bisa bersihkah lantai tersebut? Bagaimana dengan bau ruangan akibat penggunaan kotoran kerbau itu?

Masyarakat Sasak Sade telah menyadari konsekuensi membersihkan ruangan menggunakan kotoran Kerbau. Mereka mempunyai tekniknya, yaitu dengan membersihkan lantai di pagi hari. Kemudian kotoran kerbau yang sudah rata di seluruh ubin dibiarkan beberapa saat hingga baunya menguap tersapu angin dan mengering terkena hawa sinar matahari. Pada saat kondisi mengering lantas lantai rumah disapu bersih tanpa di pel dan juga tidak dibilas air bersih. Penggunaan kotoran sapi di lantai memang menimbulkan bau yang menyengat. Namun bau itu perlahan semakin menipis dan hilang seiring dengan mengeringnya lantai dan hembusan angin.

Bagi Suku Sasak di Sade, pola membersihkan lantai rumah secara turun temurun itu disamping mempertahankan adat istiadat leluhur juga mempunyai kegunaan, diantaranya untuk mengusir nyamuk.

Masyarakat Sasak Sade memeluk agama Islam. Leluhur mereka mewariskan adat istiadat, tradisi dan norma, diantaranya ‘slam Wetu Telu’. Maksudnya, ajaran Islam yang jejak tradisinya berkaitan dengan agama-agama sebelumnya, yaitu Hindu-Buddha dan Kapitayan.
“Dulu leluhur kami tidak salat karena sudah diwakili oleh guru kami. Namun sekarang sudah tidak begitu, kami sekarang salat.” Kata Munaris.

Keunikan Suku Sasak Sade mampu menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Kesantunan dan kekhasan tradisi adalah daya tarik mereka. Begitu juga kreatifitas seperti menenun dan membatik khas Suku Sasak yang mampu menghasilkan berlembar-lembar kain yang menghiasi sudut-sudut jalan setapak kampung mereka. Income keluarga tentu bertambah dari hasil penjualan kain dan aksesori lainnya seperti gelang, kalung, ikat kepala, gantungan kunci, bros dan lainnya.

Masyarakat Suku Sasak di Dusun Sade kini mempunyai mata pencaharian tambahan meski hal tersebut bukan satu-satunya sumber pendapatan. Bahkan potensi pendapatan cukup tinggi mengingat Dusun Sade terletak di jalur menuju Pantai Kuta Mandalika yang baru-baru ini dicanangkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus oleh Presiden Jokowi.

Kemajuan infrastruktur Nusa Tenggara Barat yang mampu mengundang para turis hendaknya diimbangi dengan alokasi biaya proses edukasi masyarakat. Di Dusun Sade misalnya, masyarakat Suku Sasak masih tampak gagap sehingga gelombang turis masih belum mampu melakukan eksplorasi seluruh lingkungan Sasak Sade.

Beberapa faktor penyebabnya, di antaranya penataan lingkungan yang masih terkesan seadanya sehingga keunikan Dusun Sade tampak monoton. Pemerintah perlu melakukan rekayasa desain hingga lingkungan Dusun Sade menjadi lebih menarik tanpa harus mengubah keunikannya.

Faktor lainnya adalah pernik aksesori Suku Sasak Sade masih belum menemukan unsur pembeda dengan obyek wisata lainnya. Antara obyek wisata di Bali, Lombok dan Banyuwangi ditemukan aksesori dan cenderamata yang nyaris seragam.

Di sebuah Dusun di Banyuwangi terdapat home industry aksesori. Bahan bakunya mereka peroleh dari Pasar Turi Surabaya yang asal muasalnya impor dari China. Produk kreatif mereka lantas dijual ke beberapa daerah wisata, diantaranya ke Bali dan Lombok. Kasus pernik aksesori ini perlu dicarikan solusi spesifikasinya agar para pedagang pernik aksesori seperti Suku Sasak di Dusun Sade itu tidak dirugikan. Para wisatawan tentu tak mungkin belanja barang aksesori lagi di Dusun Sade, atau di Penglipuran misalnya, jika barang yang ia temukan ternyata sama dengan yang sebelumnya telah ia beli.

Keseragaman produk dalam kasus tertentu memang baik sebagaimana penerapan birokrasi dalam kasus bisnis fast food Mc Donald (Ritzer, 1993). Namun rasionalitas formal logika Weber ini menghasilkan keburukan jika melanda dunia bisnis aksesori daerah pariwisata yang sejatinya menjual keunikan. Masyarakat Sasak Sade memang bukan kaum determinis ekonomi karena itu Pemerintah yang perlu memikirkan hal ini. Kita tentu tidak menyukai kondisi dimana Sasak Sade yang kaya keunikan justeru tampak terasing dari realitas keunikannya.

24 Lombok, Juli 2018