“Hidup itu harus bersenyawa dengan alam semesta agar kita merasakan alam semesta bertasbih kepada Allah. Contoh kecil, di wilayah Jawa Barat terdapat waduk Jatiluhur yang mengalir ke Citarum , yaitu Tarum Barat dan Tarum Timur. Tarum Barat mengarah ke Jakarta, termasuk ke Kalimalang. Sedangkan Tarum Timur sampai ke Cirebon. Jika kedua aliran ini ditata dengan baik, dengan kedalaman dan lebar yang memadai maka menghubungkan Cirebon sampai Jakarta bisa menggunakan transportasi air sebagaimana jalan tol yang ada sekarang ini. Peradaban air ini bisa menjadikan siklus ekonomi berjalan cepat dan baik. Di Jawa Barat mempunyai tingkat-tingkat sungai yang jika dijadikan lanskap pembangunan yang memadai hingga seluruh kelok alam Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, alam nusantara maka akan tampak hamparan aliran sungai-sungai kecil seperti Sancang lalu masuk dalam muara seperti raksasa. Sentuhan arsitektur menjadikannya bersenyawa dengan lingkungannya sehingga menjadi kehidupan yang indah dan terasakan denyut tasbih disetiap saat.”

Paragraf di atas adalah penggal kalimat Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta saat memberikan orasi ilmiah dalam Kuliah Umum yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta.

Dedi Mulyadi memang sosok Bupati energik yang unik. Dedi gandrung alam semesta.  Ia tak habis-habisnya mengagumi kekayaan alam dan budaya bumi Indonesia, termasuk Purwakarta. Karena itu di setiap kesempatan ia maksimalkan untuk terus mendorong masyarakat agar mengutamakan pemahaman dan pengalaman hidupnya. Dedi berobsesi masyarakat Purwakarta yang ia pimpin menjalani hidup dengan cara yang benar sehingga bisa menyesuaikan dengan lingkungannya. Dengan cara itu masyarakat mampu mengeksplorasi kekayaan yang bertebaran di lingkungannya sendiri. Pengalaman dan pemahaman hidup inilah yang mendorong orang-orang menjadi komunitas yang selalu bersyukur kepada Tuhan.

“Saya pernah patah tulang, saya sembuh hanya dengan diurut oleh seorang kakek di desa Siluman Kabupaten Subang. Sementara banyak orang patah tulang lari ke dokter, sudah sakit, harus dibedah, dipasangi pen, lalu digips. Lebih sakit lagi, itu pun harus bayar mahal dibanding keikhlasan kakek di Subang itu.” Urai Dedi.

Maka Dedi Mulyadi terus beruapaya mengangkat kembali kekayaan budaya Nusantara, khususnya di Jawa Barat. Selain Sangkal Putung di desa Siluman Subang, juga terdapat ahli hepatitis di Garut, tingkat-tingkat air dalam tradisi Sunda, Ijuk di Purwakarta dan sekitarnya, dan lain-lain.

“Semua itu ilmiah jika dikaji secara ilmiah dan itu tugas para akademisi kajian Nusantara untuk merumuskan sisi ilmiahnya. Kata Dedi.

Bersenyawa dengan alam membuat hidup seseorang menjadi sehat lahir dan batin. Mampu mengenal diri sendiri, merasakan kasih sayang Tuhan. Pikiran, fisik, dan jiwa yang sehat dirawat melalui latihan fisik yang disiplin, diet, meditasi, pelajaran tentang etika dan karakter, serta meditasi kontemplatif yang mendalam tentang matematika, musik, kosmologi, dan filsafat. Pikiran dan tubuh disesuaikan secara benar lalu membangkitkan tingkat realitas dan tujuan hidup. Secara teoritik tampak rumit namun di tingkat realitas, itulah kehidupan masyarakat Nusantara.

“Sejak kecil saya tidak bersentuhan dengan rumah sakit, dengan obat-obatan kimia. Tubuh dan jiwa saya sehat. Bakteri yang sering dituduh sebagai biang penyakit tidak perlu dimusuhi karena tubuh yang sehat juga perlu sirkulasi bakteri. Maka hidup saya pun tanpa suntik imunisasi.” Ujar Dedi.

Ikhtiar memaksimalkan potensi alam semesta Nusantara membutuhkan pemikiran yang terbuka. Karena itu kajian khazanah Nusantara sangat diperlukan agar masyarakat Indonesia tidak terus-terusan silau terhadap peradaban Barat. Dedi Mulyadi menuturkan bahwa pasca kolonial sebenarnya telah menunjukkan bahwa kekayaan peradaban Nusantara telah ditemukan dan dieksplorasi orang Barat terutama Belanda. Karena itu sudah seharusnya bangsa Indonesia memahami dirinya sendiri dan menentukan arah tujuan hidupnya.

Prakarsa ini seorang Bupati ini layak disebut “Bios Dedi Mulyadi”, cara hidup Dedi Mulyadi, seorang Sunda yang sedang berikhtiar membumikan nilai-nilai Sunda dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kekayaan khazanah budaya Jawa Barat.