Kuliah membosankan? Ah, tidak lagi. Tak percaya, tengok saja para muda-mudi yang studi di Jantung kota Jakarta, tepatnya di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di kawasan Menteng. Kuliah di Unusia–begitu mereka biasa memanggil diri–tampak rileks dan happy.

Para mahasiswa diberi keleluasaan berekspresi dan menyalurkan bakatnya. Penguatan basis keilmuan wacana melalui diskusi, pagelaran budaya, riset hingga turun lapangan, menjadi pemandangan biasa di Unusia.

Sore itu para mahasiwa beraktifitas tidak seperti biasanya. Intensitas kesibukan meningkat. Area kampus terasa makin menyempit ditengah lalu lalang para mahasiswa. Seorang mahasiswi Psikologi, Elok, bersiap mengikuti pendampingan narapidana anak di Lapas Cipinang. Di sudut belakang lantai satu terdapat sekumpulan Pengurus BEM berencana menghadiri gerakan anti radikalisme di Kuningan. Tak kalah sibuk kelompok mahasiswa Studi Hukum meracik konsep untuk mendirikan Kantin Kejujuran di sekolah sekolah.

“Max Weber menjadi sosok penting setelah belajar dari ketegangan fakta sosial yang dialami kedua orang tanya.” Kata Mery, mahasiswi yang enjoy memilih studi jurusan Sosiologi.¬†Karena itu mahasiswa pun harus masuk dalam situasi akademik yang menyibukkan agar mampu belajar dari problem disekelilingnya. Kompleksitas persoalan makin menyeruak ditengah perkembangan dunia informasi digital yang memberikan kecepatan.

“Maaf Pak, saya Vina, belum sempat menghadap. Saya masih harus fokus ke acara Program Bina Desa yang puncaknya dua hari lagi.” Kata Vina, mahasiswi studi Hukum yang cukup kirim chatt via WA ke Dosennya. Program studi hukum memang cukup inovatif. Kelincahan para dosennya menyertakan para mahasiswa Prodi Hukum sehingga mereka mampu bersinergi merancang perubahan dari hal yang paling kecil, mulai dari urusan internal kampus, seperti inovasi untuk memperluas ruang pembelajaran, mendekatkan teori dengan praktiknya hingga program advokasi kelompok sosial. “Tepat kata Karl Marx bahwa pelaku utama perubahan sosial bukan individu, melainkan kelas-kelas sosial.” Ujar Awaludin, mahasiswa Sosiologi yang sejak semester satu serius mendalami pemikiran Karl Marx.