Oleh Ulil Abshar Abdalla (Direktur ICRP)

Malam ini, saya benar-benar begadang bersama Gus Dur, dengan menikmati tulisan-tulisan lamanya yang dikumpulkan dan terbit dengan judul, “Islam Kosmopolitan.” (Diedit oleh Ahmad Suaedy) dan dikata-pengantarai oleh Agus Maftuh Abegebriel [sekarang Dubes kita untuk Kerajaan Arab Saudi]).

Hingga selarut ini, saya belum bisa melepaskan diri dari buku kumpulan tulisan-tulisan lama Gus Dur itu. Sebagian tulisan-tulisan ini dulu terbit di Prisma — jurnal yang boleh disebut paling bergengsi di Indonesia pada dekade 70an dan 80an. Membaca artikel-artikel di buku ini, kita akan mendapatkan gambaran tentang sosok Gus Dur sebagai seorang akademisi, “scholar” yang luar biasa.

Buku ini sebetulnya sudah lama ada di rak buku saya (terbit pada 2007 oleh The Wahid Institute). Tetapi entah kenapa, baru malam ini saya tergerak secara khusus untuk membacanya kembali. Seperti ada “tangan gaib” yang menuntun saya (kok agak serem ya, hehehe…).

Artikel pertama yang langsung saya “buru” dalam buku itu adalah tulisan lama Gus Dur berjudul “Pesantren Sebagai Subkultur”. Pertama kali saya membaca artikel ini adalah pada tahun 1980an ketika saya masih menjadi seorang “santri-ndeso-kluthuk” di desa Cebolek, Pati. Membaca kembali artikel itu malam ini, ada perasaan “nostaljik”, “ngelangut”, yang mendadak menyerbu saya, seperti melihat album lama keluarga yang antik.

Artikel ini dulu dimuat dalam sebuah bunga rampai tentang pesantren terbitan LP3ES dengan judul (kalau tak salah ingat), “Dinamika Pesantren”, diedit oleh Dawam Rahardjo. Saya masih ingat sekali: bukunya bersampul warna kuning. Selain tulisan Gus Dur sebagai artikel pembuka yang “dahsyat”, ada tulisan-tulisan lain, antara lain oleh Cak Nur.

Terus terang saja, waktu membaca pertama kali artikel ini di pesantren dulu, saya tak memahami semua hal yang dikatakan Gus Dur di sana. Istilah “sub-kultur” sendiri, bagi saya yang saat itu masih sebatas belajar Jurumiyyah, Alfiyyah, dan Taqrib (judul kitab-kitab yang diajarkan di pesantren NU), sama sekali tak jelas artinya apa. Sub-kultur? Wa-adraka ma sub-kultur?

Setelah saya baca dan nikmati kembali artikel itu malam ini (usai pulang dari menghadiri ceramah Gadis Arivia yang memikat tentang eko-feminisme di Jurnal Perempuan), saya menjadi paham, kenapa saya tak mudah mencerna artikel tesebut waktu di pesantren dulu.

Perkaranya menjadi jelas sekarang di mata saya: artikel Gus Dur itu mengetengahkan pengamatan atas fenomena sosial dengan derajat abstraksi yang tinggi. Artikel itu memindahkan kehidupan nyata di pesantren ke tataran lebih “luhur” dalam bentuk konseptualisasi yang teramat canggih. Jelas “nalar santri” saya yang baru ada di maqam jurumiyyah waktu itu, tak kuasa menjangkaunya.

Membaca artikel Gus Dur itu kembali malam ini, saya menjadi tahu kenapa tulisan ini sangat populer dan “karismatik” pada tahun 80an awal (tulisan ini, kalau tak salah, diselesaikan Gus Dur pada tahun 1978, saat dia, jelas, masih muda dan mengajar di Tebuireng).

Artikel yang cukup panjang ini (dalam edisi WI, berjumlah enam belas halaman dengan spasi yang rapat) ditulis dengan “elegansi konseptual” yang memikat. Penggemar teori ilmu-ilmu sosial sudah pasti akan “kesengsem” pada tulisan Gus Dur ini, karena bentuk konseptualisasinya yang indah dan elegan, mengingatkan saya pada, misalnya, elegansi tulisan Pierre Bourdieu dalam bukunya, “Distinction”.

Yang saya tak paham, dan terheran-heran, kok bisa Gus Dur yang bukan jebolan universitas di Barat, dan studinya justru dalam bidang sastra Arab, bisa menulis pengamatan sosiologis/antropologis atas dunia pesantren dengan “keren” seperti itu? Dari mana dia mendapatkan “keajaiban konseptual” seperti itu?

Inti dari tulisan Gus Dur itu: bahwa pesantren adalah “dunia sub-kultur”, dunia yang unik, dengan wawasan nilai, kultur, struktur otoritas, dan norma-norma sosial yang relatif terpisah dari, dan berbeda dengan masyarakat yang ada di luarnya.

Ringkasan saya ini jelas distortif dan tak menjelaskan keindahan artikel aslinya. Saya persilahkan Anda membaca tulisan Gus Dur itu dan mencicipinya langsung. Sebab kelezatan rendang tak bisa dicicipi dengan mendengarkan cerita lain orang tentang lezatnya rendang toh?

Yang mengagumkan buat saya dalam artikel ini adalah kemampuan Gus Dur untuk “keluar-masuk” dalam memandang pesantren sebagai obyek-amatan. Kadang-kadang Gus Dur masuk ke dalam pesantren dan mengemukakan amatan-simpatik atas dunia kaum santri itu. Tetapi di saat yang sama Gus Dur juga bisa keluar dari sana dan menyampaikan kritik atas pesantren. Strategi pengamatan ganda inilah yang membuat artikel Gus Dur itu memikat di mata saya.

Pertanyaan yang “nggelendot” di pikiran saya usai baca artikel ini adalah: Apakah pengamatan Gus Dur atas dunia pesantren masih relevan saat ini? Apakah pesantren masih merupakan sub-kultur yang otonom dan bisa membentuk nilai-nilai sosial dalam dunia sosial yang ada di luarnya? Ataukah pesantren sudah terserap dalam “Kultur” (dengan K besar) sosial di luar; menjadi sub-ordinat saja?

Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan penelitian baru, dan ini merupakan tantangan generasi sesudah Gus Dur sekarang. Saya membayangkan teman-teman NU mengadakan “rapat ilmiah” terbatas untuk mendiskusikan tulisan lama Gus Dur ini kembali, sembari merefleksikan perubahan-perubahan dunia pesantren sejak artikel itu ditulis pada 1970an.

Membaca artikel-artikel yang terkumpul dalam buku ini, kita akan menikmati periode ketika Gus Dur masih tampil sebagai sosok “scholar”, pengamat sosial dengan ketajaman konseptual yang mengagumkan, serta gaya menulis yang cemerlang.