oleh Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj

Satu tahun lalu Pak Amran Sulaiman mengajak saya diskusi tentang petani. Beliau memaparkan mimpinya tentang kemakmuran petani Indonesia. Program perbaikan infrastruktur pertanian dan sarana petani pun ia sampaikan secara lugas dan meyakinkan. Saya sering berdiskusi dengan para Menteri. Terkhusus Pak Amran yang serius ingin mengajak Nahdlatul Ulama membuat saya berpikir bahwa Menteri Pertanian ini patut diyakini telah memahami anatomi masyarakat petani Indonesia.

Indonesia masih harus bekerja keras. Eropa yang sudah berperadaban tinggi saja masih terus berkreasi dan berinovasi. Begitu juga masyarakat Amerika, Tiongkok, Singapura, Qatar, dan lainnya. Kemajuan mereka tak lepas dari upaya anak bangsa yang terus bekerja keras bersamaan dengan kesadaran anak bangsa yang sedang berkuasa yang komitmen menyelesaikan problem kebangsaan dan kenegaraan.

Persoalan pertanian rumit karena telah lama dibiarkan berlarut-larut. Namun kerumitan itu dapat diselesaikan saat Pemerintah mempunyai keberpihakan terhadap petani. Indikator keberpihakan itu dalam tiga sektor, yaitu penguasaan Pemerintah di bidang energi, air dan hutan. Rasulullah saw berpesan agar tiga hal itu dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat luas. Maka tiga sektor itu tidak boleh dimonopoli. Pengelolaannya diproyeksikan untuk kemakmuran bersama.

Nahdlatul Ulama tidak anti konglomerat. NU hanya mengidealkan adanya kondisi dimana konglomerat berusaha keras mewujudkan agar kapital tidak hanya berputar-putar di dalam kelompok itu-itu saja. Para Pengusaha besar itu harus sadar bahwa penguasaannya atas lahan yang luar biasa luas itu berbarengan dengan jutaan anak bangsa yang belum mampu memiliki sepetak rumah hanya untuk perlindungan dari terik panas dan hujan.

NU tentu bahagia melihat Pemerintah membagikan jutaan sertifikat sebagai bentuk perlundungan hak milik masyarakat. Program ini harus diteruskan. Saya sudah menyampaikan kepada Pak Jokowi bahwa terusan dari program ini adalah memberikan bekal para petani mulai dari lahan, peralatan bertani, bibit, ilmu pengetahuan dan lainnya.

Setahun sudah berlalu dan Pak Amran menyampaikan capaian kerjasamanya dengan Nahdlatul Ulama. Keyakinan saya berwujud keberhasilan program Kementerian Pertanian. Diantaranya jagung sudah mampu ekspor dari sebelumnya kita impor. Inilah sosok Menteri Pertanian yang benar. Saya sampaikan kepadanya, “Pak Amran, petani itu ikhlas merawat tanah dan air negeri ini. Allah yang membalas jerih payah Pemerintah juga Bapak sekeluarga.”

Langkah terobosan Kementerian Pertanian ini sudah lama ditunggu masyarakat petani. Selama ini sektor pertanian selalu dikalahkan situasi dan kondisi. Mereka sudah lama tertindas namun masih tegar menggeluti profesinya. Saya senang melihat kerja konkret yang berpihak. Petani butuh air, disiapkan. Butuh traktor dikasih, butuh benih dibantu. Inilah fungsi Pemerintah yang efektif.

Mengapa berpihak kepada petani itu penting dilakukan? KH Hasyim Asyari mengingatkan, “petani itu penolong negeri.”