Pagi yang cerah tampak ada suasana berbeda di Pesantren Mahasiswa Nahdlatul Ulama Hambulu Kemang Bogor. Dua kelompok anak muda bertemu, yaitu para santri kader Nahdlatul Ulama sebagai tuan rumah; dan kader Kristen Katolik yang sedang mengikuti program kaderisasi yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Jakarta. Selama di Pondok Pesantren, Kedua anak bangsa beda agama itu berinteraksi, berdiskusi, tentang agama, sosial, keindonesiaan terutama tentang Pancasila.

Para kader Katolik itu menyaksikan ritual keislaman pesantren Nahdlatul Ulama. Tahlil, Diba’an-Barzanjen, Istighosah, salat lima waktu dan materi penguatan spiritual dan mental lainnya. Mereka juga makan bersama ala santri, dan di pagi hari kerja bakti membersihkan lingkungan pesantren. Wajah-wajah ceria tampak di wajah mereka. Tak ada ketegangan apalagi sikut-sikutan.

“Kader-kader Katolik ini kami bawa kemari tanpa pemberitahuan sebelumnya ke mereka. Tujuan Keuskupan hanya ingin mengenalkan proses penempaan jiwa Pancasila di pondok-pondok pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama.” Kata Lukas, pemimpin delegasi dari Keuskupan Agung Jakarta.

Menurut Lukas, Mengenal Nahdlatul Ulama itu penting mengingat peran penting NU menjaga Indonesia dengan pendekatan budaya dan local wisdom. Karena itu beberapa kelompok kader telah disebar ke beberapa pondok pesantren untuk belajar.

“Kami mempunyai pendidikan calon pastor, Seminari, yang mirip pondok pesantren. Hanya kekuatan pondok pesantren terletak pada keakrabannya dengan tradisi dan budaya lokal, sedangkan di Seminari hal itu kurang terasa.” Imbuh Lukas yang lahir di Jakarta dari orang tua asli Maluku.

Hidup di Indonesia yang plural ini memang membutuhkan kerja keras dan belajar keras memahami agama, sosial, budaya dan relasinya dengan negara-bangsa. Masyarakat beragama sudah dibiasakan untuk bersikap bahwa semua manusia adalah pemegang mandat Tuhan. Panduan bertindak dan bersikap pun telah disiapkan dalam wujud teks-teks ilahiah yang mengikat. Istilahnya, masyarakat berkitab (Arkoun: 1982).

Kebiasaan menjadi masyarakat berkitab adalah tantangan kehidupan. Masyarakat berkitab idealnya tidak gagal dalam kehidupan. Sebab jika gagal maka watak inferior mewabah yang berkonsekuensi pada jalan pintas mengatasnamakan agama dalam perebutan kekuasaan dan ekonomi.  Inilah yang menjangkiti otak Karl Marx hingga ia mengatakan bahwa Tuhan adalah sebuah refleks atas ketidakmampuan manusia (David Trueblood: 1965).

Membangun dialog antarumat beragama model ini tentu positif untuk menuju perubahan yang lebih baik, minimal mendorong masyarakat berkitab untuk maju bersama-sama dan tidak saling curiga. Menghormati antarsesama umat beragama dan anak bangsa atas itu bukan sesuatu yang mudah, meski itu ajaran Tuhan. Karena itulah sikap mulia ini perlu latihan secara kontinyu. Meminjam konsep Karen Amstrong, tak ada yang menginginkan anak bangsa ini menjelma menjadi sosok-sosok yang seolah-olah takut kepada agama, tanpa lagi menghitung keberadaan Tuhan. Agama seolah-olah diyakini sedemikian kuat, sedang kepada Tuhan, perilakunya menunjukkan kurang begitu percaya (Karen Amstrong: 1993).