Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Menelusuri jembatan Merah Putih di Ambon saat malam tiba menghadirkan kenikmatan tersendiri. Jembatan ini membentang di atas Teluk Dalam yang menghubungkan Desa Rumah Tiga (Poka) di sisi utara, dan Desa Galala di sisi selatan. Di malam hari tiang-tiang dan gantungan jembatan berwarna merah menyala. Sementara di sisi kanan dan kiri jembatan tampak tebaran ribuan lampu pertanda kehidupan.

Maluku terus bergeliat. Masyarakat beraktifitas di pagi hari, meramaikan jalanan kota hingga ke daerah pinggiran dipenuhi orang-orang berkendara. Pagi itu saya pun menelusuri jalanan dari kota Ambon menuju desa Morella, lalu ke Hila dan berhenti di Kaitetu. Di desa terakhir ini saya mengunjungi masjid tua Wapauwe yang dibangun pada 1414 M.

Masjid Tua Wapauwe dibangun oleh Perdana Jamillu di lereng Gunung Wawane. Pada 1614 Masjid yang disanggah oleh duabelas balok kayu tanpa paku itu berpindah ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane. Saat ini dua kampung tersebut bagian dari desa Kaitetu.

Masjid Wapauwe yang berukuran kira-kira seratus meter persegi terdiri dari beberapa bagian, pertama, bagian dalam masjid yang terdapat bedug, lemari untuk menyimpan al-Qur’an kuno tulisan tangan, alat takar zakat kuno, mimbar masjid yang dilengkapi dua bendera segi tiga masing-masing berwarna merah putih, dan pintu masjid kuno berlogo kraton khas Jawa yang bertuliskan huruf Arab “la ilaha illallah muhammadur rasulullah” dengan tulisan yang kurang beberapa huruf. Logo ini kemungkinan sebagai petunjuk adanya relasi Kesultanan Hitu dengan Giri Kedaton di Gresik (Burhanudin, 2012).

Bagian kedua, teras masjid yang digunakan untuk menyimpan bagian-bagian masjid yang diganti karena telah berumur. Duabelas balok kayu sebagai tiang masjid yang pertama kali, disimpan di teras masjid ini. Teras ini juga untuk menyimpan kuncup pertama masjid.

Ketiga, halaman masjid yang dalam momentum tertentu digunakan untuk upacara adat. Di halaman samping masjid terdapat tanggul dari bata setinggi duapuluh centimeter. Bentuknya empat persegi panjang yang tengahnya berisi tanah, bebatuan dan bongkahan batubata. Tempat itu digunakan untuk menyembelih hewan kurban.

Beberapa waktu lalu, saat Idul Adha, sehari setelah salat Idul Adha, seseorang yang berkurban kambing berbaur dengan masyarakat lainnya di halaman masjid. Mula mula kambing kurban dipanggul untuk mengelilingi masjid sebanyak tiga kali sambil melantunkan takbir khas lebaran. Kemudian uang operasional diusap-usapkan ke seluruh tubuh kambing dan orang yang berkurban sebagai simbol pengharapan keselamatan. Upacara adat pun selesai dan hewan kurban disembelih.

Di sepanjang jalan desa, saya sering menemukan aktifitas masyarakat desa yang menjemur hasil pertaniannya.
“Cengkeh ini, hanya sedikit.” Tutur perempuan tua berkerudung dengan ramahnya menjawab sapaan saya. Ia menjemur cengkeh di atas dua lembar plastik bekas berukuran kurang dari satu meter persegi.

Kecamatan Leihitu masih menyisakan jejak Kesultanan Hitu dimana masyarakatnya bertani rempah-rempah. Iskandar, kolega saya dari Sucofindo menuturkan bahwa di Maluku masih banyak masyarakat yang bertani cengkeh dan Pala. Hanya saja masih belum diekspor karena beberapa kendala.
“Kualitasnya masih perlu ditingkatkan karena itu masih dijual di dalam negeri.” kata Iskandar. Di luar urusan rempah-rempah juga terdapat kegiatan BUMN di Maluku seperti Pertamina, PLN, dan lainnya.

Maluku masih sangat memerlukan perhatian ekstra dari semua pihak, utamanya Pemerintah. Kekayaan rempah-rempah, ikan dan keindahan alam adalah potensi besar yang belum tergarap secara baik. Di pesisir laut Morela misalnya, cukup hanya sepuluh meter dari bibir pantai, kita sudah disuguhi keindahan dasar laut berikut ribuan jenis ikan warna-warni.

Investasi, sumberdaya manusia dan stabilitas keamanan memang menjadi syarat kemakmuran suatu kawasan. Saat ini Maluku sudah bergeliat. Riset dari kalangan akademisi sudah sering dilakukan untuk membantu pihak petani agar produk pertaniannya memenuhi standar ekspor. Kehadiran beberapa BUMN pun turut bisa mempercepat kemajuan Maluku. Potensi Maluku semakin tampak besar saat ada penambahan konektivitas (Rini Soemarno, 2017).

Ambon, 26 Agustus 2018