Beberapa hari lalu kami diundang kelompok pelajar dan mahasiswa Nahdlatul Ulama sebagai pembicara dalam acara “Cangkir” di kantor PWNU DKI Jakarta di bilangan Utan Kayu, Senin (22/5/2017). Mereka membincang tentang ideologi transnasional yang akhir-akhir ini sedang marak, khususnya strategi HTI mendirikan khilafah di Indonesia. Acaranya didisain cukup santai meski materi yang diperbincangkannya serius.
Kepada peserta yang didominasi anak-anak muda itu kami jelaskan sejarah, pergerakan termasuk beberapa konsekuensi jika HTI terus dibiarkan, seperti terjadinya ketidakefektifan pemerintahan, kekacauan sistem bernegara, serta ujungnya adalah perebutan kekuasaan yang kemungkinan besar melalui kudeta dan pertikaian anak bangsa. Karena itu pembubaran HTI sebagai langkah tepat, dengan syarat Pemerintah melakukannya dengan tegas, sehingga tidak dianggap main-main dan hanya jadi bahan tertawaan saja. Namun kami menekankan agar Pemerintah tetap melakukan tindakannya di atas peraturan yang berlaku.

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang selama ini mengidentifikasi dirinya sebagai penerus perjuangan dan pemikiran Taqiyuddin an-Nabhani. Hanya saja dalam praktiknya jauh berbeda. Jika an-Nabhani tidak pernah mewujudkan gerakannya dalam bentuk politik praktis, HTI selalu bergerak untuk mewujudkan ambisi politik mendirikan khilafah. Di samping itu yang perlu diwaspadai adalah konsep dakwah HTI yang mereka implementasikan sebagai aktivitas propaganda untuk mendirikan ‘negara khilafah’. Sering terbaca dalam tulisan-tulisan mereka bahwa persoalan apapun yang membelit suatu bangsa, solusinya hanya khilafah. HTI telah mempersempit pengertian dakwah menjadi propaganda pentingnya khilafah. Tentu ini langkah politisasi dakwah yang tidak pernah dicetuskan an-Nabhani.

Karena itu kepada para pelajar dan mahasiswa yang hadir kami tekankan bahwa pemikiran dan perubahan sosial politik yang diusahakan an-Nabhani telah disalahartikan oleh HTI. Jika an-Nabhani tidak pernah menggagas sebagaimana yang dipahami HTI tentu terdapat agenda besar yang sedang dirancang HTI.

Pada konteks ini HTI bisa dianalisa  sedang menjalankan strategi politiknya dalam mendirikan khilafah. Strategi menonjol yang mereka lakukan adalah propaganda dan ilfiltrasi ke jantung kekuasaan. Analisa selanjutnya, HTI melakukan ‘tafsir jauh’ atas teks-teks an-Nabhani sebagai tindakan yang sengaja dilakukan untuk meraih kekuasaan.