Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Simon Jonathan dari PT Bintang Toedjoe, mengundang Gerakan sosial NU Care dan Muhammadiyah ke kantornya. Mereka ingin menyerahkan hewan Qurban sekaligus memperlihatkan proses produksi. Menyusul kemudian yang menyerahkan hewan Qurban adalah pebisnis ritail Alfamart, Hary Tanoesudibjo dari MNC Group dan lainnya.

Ratusan kambing dan sapi terkumpul untuk selanjutnya tim NU Care yang mendistribusikan kembali dalam bentuk daging kepada masyarakat yang memerlukan. Tahun ini sebagian besar distribusi daging Qurban diarahkan ke masyarakat Lombok yang sedang tertimpa musibah gempa.

Gerakan sosial ‘Nusantara Berqurban’ ini berhasil menarik animo masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk non muslim. Sudah sejak bertahun-tahun lalu non muslim di Indonesia ikut berwurban. Konsep Qurban yang awalnya wujud ritual keislaman telah menjadi gerakan sosial yang meluas melewati sekat-sekat dogma agama. Momentum Qurban menjadi momentum aksi solidaritas dan persaudaraan yang bisa dioptimalkan untuk mengubah elemen masyarakat tertentu yang sedang mengalami ketimpangan.

Perilaku masyarakat non muslim yang memanfaatkan momentum Qurban ini indikator efektifitas nalar keseimbangan sebagai faktor penting bangunan sosial. Meminjam analisa Sosiolog Italia Vilfredo Pareto (1848-1923) kelompok non muslim ini sedang berupaya mempertahankan keseimbangan masyarakat. Saya pun berkeyakinan bahwa muslim maupun non muslim saling ketergantungan mengingat substansi kemanusiaannya sebagai bagian dari sistem sosial masyarakat.

Pluralitas masyarakat perlahan semakin mendorong seseorang untuk berani mendemonstrasikan titik kesamaannya, yaitu sensitif terhadap isu-isu kemanusiaan. Nyali ini didorong oleh karakter bahwa–kata Rumi–manusia tidak mungkin lepas dari penglihatan dan mengingat orang lain (Jalaluddin Rumi, 2002). Situasi dan kondisi yang baik ini selanjutnya perlu diupayakan agar pandangan ini semakin membesar dan mendominasi.

Kebutuhan membesarkan kesamaan pandangan atas isu-isu sosial kemanusiaan ini tak lepas dari beban hak manusia atas pengelolaan alam. Artinya, manusia sebagai bagian dari alam merupakan faktor penting bagi proses pemeliharaan dan perlindungan alam (Said Aqil, 2008).

Qurban dan isu kemanusiaan seperti kemiskinan, kebencanaan, ketertinggalan memerlukan aktor yang mampu bertindak seempiris mungkin. Karena itu keikutsertaan mereka berqurban adalah aksi emprik, bukan simbolisme basa-basi.