Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Berkunjung ke kota Jambi terasa belum sempurna jika mengacuhkan Candi Muaro Jambi. Situs yang telah ada sejak abad ke tujuh ini berjarak sekitar tiga puluh kilo meter dari kota Jambi. Saya mengunjunginya melalui jalan darat. Jalan menuju Candi sedang diperlebar sehingga akses menuju Candi sedikit terganggu.

Area Candi Muaro Jambi diperkirakan lebih dari dua ribu hektar. Bisa jadi dua puluh kali luas Candi Borobudur. Perlu waktu cukup untuk mengitari area Candi. Namun bagi wisatawan yang ingin mempersingkat kunjungan dapat memanfaatkan sepeda-sepeda yang telah tersedia di area Candi.

Saat ini Pemerintah Daerah sedang mempercantik area Candi. Berbagai fasilitas sedang dibangun, seperti lahan parkir, taman, trotoar termasuk pemugaran situs-situs yang selama ini masih terbengkalai. Beberapa pekerja tampak memasang bata demi bata secara detail dan hati-hati.

Seorang pekerja–sebut saja Zul–menjelaskan bahwa terdapat dua jenis pekerjaan pemugaran, yaitu menyusun batu bata kulit yang letaknya di sisi terluar bagian candi; dan bata isian. Paling mudah tentu menyusun bata isian yang cukup mengikuti susunan batu kulit di bagian terluarnya.

Tingkat kesulitan tentu pada penyusunan bata kulit. Pada bagian candi yang hancur ia kembalikan desain dan motif luar candinya dengan mengikuti desain dan motif bagian candi yang masih utuh.
“Kami berhenti memugar saat tidak ditemukan lagi petunjuk desain dan motifnya, seperti saat mencapai bagian atas. Pada situasi ini bagian atas Candi kami biarkan belum selesai sampai ada petunjuk baru, entah kapan.” Tutur Zul.

Saat saya tanya solusi untuk mengakhiri ketidaktuntasan pemugaran Candi, Zul meyakini solusinya adalah keterlibatan masyarakat lokal. “Masyarakat lokal yang mampu berkomunikasi dengan roh leluhur perlu diikutsertakan.” Ujar Zul.

Ide nyeleneh Zul mengingatkan saya terhadap gagasan Wuri Handoko tentang konsep arkeologi komunitas, yaitu penelitian arkeologi yang akomodatif terhadap ragam informasi masyarakat sekaligus membuka partisipasi masyarakat. Mengikutsertakan masyarakat sebagai bentuk advokasi kepada masyarakat yang mempunyai hak historis dan budaya (Handoko, 2008).

Pemerintah di Jambi seyogyanya juga menetapkan skala prioritas, yaitu pemugaran Candi sebagaimana yang telah dilakukan oleh Pemerintah yang dipimpin arkeolog R. Soekmono pada 1975. Infrastruktur pariwisata tak akan berdampak apa-apa jika obyek wisatanya belum terselesaikan.

Jambi, 29 Juli 2018