Foto terpampang itu saya ambil pada Jumat malam Sabtu lalu, ketika saya mengajar Madrasah Diniyyah Miftahul Huda di Warakas, Tanjung Priok Jakarta Utara.

Tiga tahun lalu, pertama kali anak-anak ini masuk madrasah diniyyah, mereka berjumlah dua belas orang. Ramai sekali. Ada laki-laki juga banyak murid perempuan. Kalau mengajar perlu ekstra energi untuk bersuara.

Setahun kemudian teman-teman diantara mereka mulai berkurang, lalu tinggal sembilan orang. Beragam alasan jumlah murid jadi berkurang. Ada yang mundur karena kegiatan eksktra kurikuler. Ada yang kabur karena kursus tambahan, ada yang pamit karena kecapaian, ada pula yang kepincut motor-motoran. Jadi mengajarnya tidak harus berteriak lagi.

Sekarang ketika mereka berada di kelas tiga jumlah temannya tinggal enam orang. Absen dua anak tersisa empat orang.

Alhamdulillah sisa tenaga dari aktifitas seharian (Ciputat-Kramat Raya) masih mencukupi menghadapi anak-anak ini.

Selalu demikian kondisi Madin Miftahul Huda dari tahun ke tahun. Di hadapan Full Day School ala Jakarta, madin seperti balon kurang udara. Awalnya kenceng, bulat menteng-menteng, dibiarkan saja lama-lama gembos sendiri.

Sudah berbagai cara ditempuh, sudah berbagai strategi dicoba, tetap saja tenaga anak-anak itu ada batasnya. Mereka butuh istirahat, mereka butuh bermain, mereka ingin nonton sinetron, mereka ingin nilai bagus, mereka harus ekskul, mereka ingin ini, mereka ingin itu. Wali murid sadar pelajaran agama itu penting, tapi lebih penting lagi nilai bagus dan lulus UN.

Jangan sampai hal ini terjadi pada madin-madin lain yang kini sudah mulai berhadapan dengan Full Day School di berbagai pelosok negeri

~Ulil Abshor~