Oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi unusia.ac.id)

Sinar mentari pagi hari menerangi aktifitas Bandar Udara El Tari dan Pelabuhan Tenau Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT). Bandar Udara ini sudah diakrabi para turis mancanegara seiring perkembangan pariwisata di NTT. Sedangkan di Pelabuhan, tepatnya Terminal Sasando tampak sebuah kapal besar antar provinsi bersandar menurunkan barang dan penumpang. Sementara di ruang tunggu sudah antri penumpang yang naik kapal menuju Bali dan Surabaya.

Sisi kanan dari Terminal Sasando juga terdapat tempat pemberangkatan kapal yang menuju ke berbagai pulau di seputar NTT. Menuju pulau Alor yang berjarak kira-kira 250 km. misalnya, seorang penumpang dikenakan tiket Seratus Sepuluh Ribu Rupiah. Harga yang murah dibanding perjalanan darat.

Di sisi kiri Terminal Sasando terdapat pelabuhan petikemas. Boy Rubyanto dalam Kompas (2017) mengatakan pada 2016 volume peti kemas di Pelabuhan Tenau mencapai 100.000 TEUs pertahun. Saat ini sedang dalam perencanaan perluasan pelabuhan agar target 2018 dapat menampung 250.000 TEUs.

Menjadi orang NTT itu dinamis dan hidupnya lebih variatif. Kondisi yang juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia di daerah lain. Ari Ardian misalnya, lebih memilih hidup di Kupang. Kesehariannya mengais rejeki di sekitar Pelabuhan Tenau. Berbeda dengan Frans Seda yang memilih berkarir di Jakarta dan berhasil menjadi tokoh nasional. Etos kerja masyarakat NTT yang tak perlu diragukan.

Letak geografis Nusa Tenggara Timur tentu memberikan tantangan tersendiri. Sebagai provinsi perbatasan, laju pembangunan di NTT idealnya mengarahkannya menjadi kota industri. Strategi ini bisa melepaskan NTT dari ketergantungan kepada negara lain disebelahnya.

Posisi strategis NTT dan kondisinya saat ini layak mendapatkan perhatian Pemerintah. Jarak Jakarta-Kupang kira-kira 2650 kilometer, berbanding dengan jarak Kupang-Dili kira-kira 400 kilometer. Artinya, jika tidak dikelola dengan baik maka NTT terbuka menjadi kawasan yang bergantung kepada negara tetangga.

Beberapa hal yang perlu diprioritaskan Pemerintah, seperti ketersediaan air bersih, listrik, jaringan teknologi informasi, pendidikan dan kesehatan. Terhadap beberapa faktor tersebut, Pemerintah perlu jeli memastikan bahwa program Pemerintah terimplementasikan di NTT.

Pemerintah juga perlu mengkreasi salah satu pulau di NTT sebagai Kawasan Ekonomi Khusus seperti Batam di Kepulauan Riau atau Mandalika di Nusa Tenggara Barat. Kawasan ekonomi ini penting karena keterbelakangan suatu daerah itu produk masa lalu yang diteruskembangkan oleh kota metropolitan. Keterbelakangan dan metropolitan juga relasi penting dari sistem kapitalis pada skala dunia (Frank, 1972). Karena itu Pemerintah perlu mencermati hal ini, tergugah dan menggugah agar NTT tidak menjadi kawasan yang bergantung kepada negara lain sebagai korban kapitalisme global.

Kupang, 16 Desember 2017