oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Beberapa orang pemuda di satu kawasan di Depok Jawa Barat menggeluti bisnis ikan hidup. Aktifitasnya sederhana, yaitu mengambil ikan dari kolam, menimbangnya lalu transaksi jual beli. Meski tampak sederhana namun lapaknya selalu ramai pembeli. Mereka selalu tampak sibuk  dan jarang sekali pasif.

Kolamnya ada dua dengan ukuran dua kali dua meter. Kedua kolam tersebut dipakai untuk memilah dua ukuran ikan saja, yaitu besar dan sedang. Kolam dibangun dipinggir jalan sehingga mudah dijangkau konsumen. Air kolam memanfaatkan air sungai yang mengalir persis di pinggir jalan. Kolam ia bangun kira-kira empat puluh centimeter dibawah aliran sungai sehingga arus air mengalir masuk ke dalam kolam dengan debit diperkirakan kurang dari lima liter perdetik. Gemericik air sungai itu menimbulkan gelembung oksigen yang ‘menyenangkan’ ratusan ikan yang ada. Kemudian di pojok kolam terdapat pembuangan air menuju tambak besar untuk pengembangbiakan ikan. Praktis tanpa teknologi mesin  untuk mengatur sirkulasi oksigen.

Timbangan ikan tampak jenis crane scale yang sederhana, bukan digital  yang membutuhkan energi listrik. Paling berat hanya mampu menimbang hingga puluhan kilogram ikan. Proses yang praktis ini pun mampu menekan harga jual ikan hidup tersebut yang mereka tentukan di kisaran antara Rp.25.000 sampai dengan Rp.30.000 perkilogram, tergantung jenis ikannya yang cuma ada tiga, yaitu Nila, Mas dan Gurami.

Di tempat lain, terdapat sebuah industri food untuk pasar modern. Di satu kawasan di Surabaya, seorang pemuda seorang diri memegang alat canggih memeriksa kualitas ikan Udang yang akan diekspor ke Kanada. Pada level tertentu, proses pemastian kualitas dilakukan tidak cukup dilakukan melalui  alat canggih tersebut. Ia  melengkapi dengan indera penciuman dan penglihatan. Maka ia pun mengendus dan memelototi ikan Udang yang sudah tertata rapi itu.

Barang-barang yang masuk pasar modern biasanya terlebih dahulu melewati quality control yang meliputi pemeriksaan kualitas ikan atau organoleptik, kimia (histamin dan formalin), suhu ikan, serta size ikan. Kemudian dilengkapi dengan sertifikat sistem managemen mutu yang biasanya dikeluarkan oleh sebuah perusahaan pemastian. Mencermati proses panjang ini tentu harga Udang menjadi berlipat-lipat saat dijual di pasaran modern.

Beberapa bulan terakhir terus muncul analisa tentang melemah, stagnan dan pertumbuhan daya beli masyarakat. Sebagian kelompok ngotot bahwa daya beli masyarakat melemah. Beberapa indikator pun dibeberkan. Di sisi lain muncul kelompok yang mengatakan bahwa daya beli masyarakat tumbuh. Ia pun melengkapi argumennya dengan data. Termasuk juga indikator dibawa oleh mereka yang mengatakan daya beli masyarakat mengalami stagnasi, nggak naik ya nggak turun. Lalu mana yang benar?

Masyarakat tidak bisa hanya dipahami melalui ‘metode angka lalu disimpulkan dalam table, grafik atau lainnya. Jika ingin tahu masyarakat secara utuh maka harus melihat langsung dinamika sosialnya. Jika ingin tahu tingkat kemiskinan masyarakat misalnya, maka perlu mendatanginya untuk melihat kondisi rumahnya, kualitas makanan tiap harinya hingga pola hidupnya dalam menjaga kesehatan (Robert Lawang, 2017).

Peduli kepada masyarakat dengan cara menganalisa daya belinya melemah atau tumbuh, itu perspektif ekonomi yang bias kepentingan. Pada kondisi tertentu kepentingan para pengusaha. Pada momentum tertentu kepentingan penguasa atau oposan. Padahal mereka itu, perspektif Karl Marx (1867), adalah kaum borjuis yang menguasai mesin produksi yang berperan penting menghasilkan kebutuhan pokok masyarakat. Kaum borjuis tampak kuat, itu lumrah. Namun menjadi kontradiktif saat kaum borjuis menunjukkan ketidakberdayaan dan lemah. Karena itu daya beli ‘lemah’ dan daya beli ‘tumbuh’ itu tak ubahnya sebuah pertarungan opini memperebutkan hegemoni untuk menguasai persepsi masyarakat umum.

Era global telah mengondisikan masyarakat dikelillingi oleh faktor konsumsi. Masyarakat tertentu telah kehilangan rasionalitas konsumsi sehingga membeli barang lebih sebagai pemenuhan hasrat (Baudrillard,1998). Namun kenyataannya itu kelompok kecil masyarakat. Kenyataannya individu-individu masyarakat mempunyai kecerdasan sendiri baik saat menjadi konsumen maupun produsen. Ini kelompok dominan masyarakat. Tetangga saya tetap mengkonsumsi daging, ikan dan sayur-sayuran. Mereka beli di pasar atau kepada petani dan peternak langsung. Lebaran tetap mudik. Anak-anak tetap sekolah dengan baik. Solidaritas mekanik dalam konteks konsumsi tentu positif dan masih mendominasi masyarakat Indonesia.