Selamat Hari Tani! Saya ucapkan untuk para petani Indonesia: petani Pala, petani Vanilla, petani Cengkeh, petani Kopi, petani kulit Kayu Manis, petani Kapas, petani tebu, petani tembakau, petani padi, petani jagung, petani Sengon dan lainnya yang tidak bisa saya sebut satu persatu. Kesulitan menyebut semuanya itu bukti kekayaan Indonesia, mulai dari varian varietas dan jenisnya hingga sumber daya manusianya.

Beberapa hari lalu, difasilitasi PT. Sucofindo, saya berkunjung ke PT. Agri Spice Indonesia yang berkantor di Klaten. Saya menyaksikan aktifitas korporat yang berpusat di Amerika Serika ini berbisnis dengan para petani Indonesia, seperti petani Kopi, Pala, Vanilla, Cengkeh dan lainnya. Mereka membeli hasil panen petani diberbagai daerah, lalu diangkut pesawat menuju Semarang untuk masuk tahap fumigasi oleh PT. Sucofindo sesuai standar yang berlaku. Kemudian diekspor menggunakan moda transportasi pesawat udara ke berbagai Negara di Eropa dan Amerika, utamanya Perancis, Jerman dan Amerika Serikat. Ya, menggunakan moda transportasi pesawat. Rempah-rempah Indonesia itu tidak lagi menggunakan moda transportasi laut karena resiko kerusakan.

Vanilla misalnya, diangkut pesawat dari petani di Papua menuju Semarang dan mampu diekspor kira-kira 3 sampai 5 Ton perbulan. Ekspor Cengkeh tergantung musim Cengkeh. Sedangkan ekspor kulit kayu manis bisa 100 sampai 150 Ton perbulan. Ekspor Pala bisa 100 Ton perbulan. Belum lagi Kopi, kayu dan lainnya dari berbagai pintu ekspor baik pelabuhan maupun Bandar udara.

Satu jenis saja, Vanilla di luar negeri menjadi barang mewah. Vanilla yang di dunia hanya ada di Indonesia, Madagaskar dan PNG ini, gambaran kemewahannya, pernah ada seorang tamu dari Swedia datang Indonesia dan dia tampak sangat hati-hati membawa satu biji Vanila. Saat ditanya tingkahnya, dia mengatakan bahwa di negaranya, dua tiga biji Vanilla bisa berharga Rp. Tiga juta. Entah di di Amerika harganya sampai berapa juta rupiah.

Apa kabar petani Indonesia? Hasil pertanian Indonesia sudah dinikmati masyarakat internasional, mulai untuk kosmetik, obat-obatan dan makanan minuman. Tahun lalu saya ke Eropa untuk kunjungan komparasi bidang pertanian. Saat meeting dengan perwakilan Uni Eropa di Belgia, seduhan teh saat itu dilengkapi dengan gula kemasan merk “java”. Saya bertanya ke satu diantara mereka, dijawab, “gula dari Indonesia sangat populer di Eropa.”

Memperhatikan Geliat ekonomi di sektor pertanian ini tampak tidak ada kelesuan ekonomi di Indonesia. Apalagi implementasi kebijakan Pak Jokowi tentang Paket Kebijakan Ekonomi jilid I sampai 15 yang memang berorientasi percepatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi nasional. Ekspor tetap stabil bahkan terus meningkat. Besaran angkanya, jika ingin tahu, bisa melihat datanya di Badan Pusat Statistik (BPS).

Kerja efektif, efisiensi dan optimalisasi: dari membongkar peraturan yang tidak pro pertanian hingga efisiensi dan optimalisasi potensi dalam negeri. Contoh hasilnya, sejak 2016 petani padi mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan Pemerintah tidak impor beras hingga kini. Harga padi dan beras petani pun membaik.

Hai petani Indonesia. Masih banyak yang harus kita lakukan. Tidak mudah melakukan perubahan namun itu sangat mungkin dilakukan di era ekonomi digital ini. Serius, tetap saja jangan lupa ngopi sambil bercengkerama.  Itu penting meski tetap harus ingat waktu.