Buku Pintar Islam Nusantara Sampul Buku Buku Pintar Islam Nusantara
Islam Sosial Budaya
Muhammad Sulton Fatoni
Non Fiksi
IIman
Juni 2017
Hard Cover
204
arahperubahan.com
9786028648219

“Buku Pintar Islam Nusantara” bermula dari diskusi panjang masyarakat Islam Indonesia tentang Islam Nusantara sejak dua tahun lalu. Sebuah dialektika yang positif. Ada yang menyambut baik, tentu ada pula beberapa tokoh yang memandang negatif terhadap term ‘Islam Nusantara’. Nah, dari situ terpikir untuk menunjukkan bukti-bukti keberadaan Islam Nusantara itu. Islam Nusantara itu fakta, bukan mengada-ada. Masih bisa disaksikan dari pendekatan analisa artefak baik yang berupa manuskrip maupun situs.

Buku-buku tentang Islam Nusantara sebelumnya sebatas narasi deskriptif tentang kehidupan muslim di Indonesia. Islam dan kultur lokal yang menyatu dalam diri orang Indonesia. Narasi deskriptif tentang Islam Nusantara ini masih belum sampai pada tataran teoritik, konsepsi, yang ditulis dengan basis penelitian. Jadi narasi deskriptifnya lebih mengandalkan rasa tentang keislaman dan kenusantaraan.  Pendekatan narasi deskriptif ini sudah cukup. Meski tanpa teori dan konsepsi, masyarakat sudah mampu merasakan maksud dari term Islam Nusantara. Selanjutnya masyarakat pun bertanya, mana bukti Islam Nusantara itu? Bisa ditemukan dimana? Buku ini adalah tahap lanjutan tersebut,  yaitu menyajikan wujud Islam Nusantara yang ditanyakan masyarakat itu.

“Buku Pintar Islam Nusantara” memperlihatkan jejak Islam tertua di tanah Jawa pada Situs Biting dan makam bangsawan muslim Raden Wijaya di Lumajang Jawa Timur; peninggalan Walisongo; komunitas muslim di Barus Tapanuli Tengah; Kesultanan Aceh Darussalam; Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan; Kesultanan Gowa; Kesultanan Ternate dan yang lainnya. Komunitas muslim di masing-masing kesultanan itu telah melahirkan kebudayaan dan peradaban yang kita warisi hingga kini.

“Buku Pintar Islam Nusantara” seakan menjadi saksi adanya warisan budaya Islam Nusantara. Misalnya yang berwujud Pondok Pesantren ada Sidogiri Pasuruan yang berdiri 280 tahun lalu. Itu sezaman dengan Tajul Arifin dari Kesultanan Cirebon, Sultan Kecil dari Kesultanan Siak, Pakubuwono II dari Kesultanan Mataram; Amir Iskandar Zulkarnain dari Kesultanan Ternate; Sultan Alauddin Johan Syah dari Kesultanan Aceh Darussalam; Sultan Tamjidullah dari Kesultanan Banjar. Dari Pondok pesantren Sidogiri saja kita dapat memahami kekuatan para kiai Nusantara membangun peradaban di tengah hegemoni kekuasaan kolonial Belanda.

Dalam bentuk manuskrip, “Buku Pintar Islam Nusantara”menunjukkan bukti karya-karya agung para kiai, seperti Kiai Nawawi Banten, Kiai Achmad Chatib Sambas, Kiai Mahfudz Termas dan lainnya. Di PBNU ada manuskrip tinggalan para Kiai sejak awal abad 20 yang berhasil dikodifikasi menjadi kitab ‘Ahkamul Fuqaha’.

Bentuk kebudayaan lainnya ditunjukkan adanya tahlilan, halal bi halal, barzanjen, selametan, seni samman, hadrah dan lainnya. Dari ujung Aceh hingga Papua melakukan ritual tersebut. Ritual muslim Nusantara ini meski tidak dapat diraba namun bisa dirasakan hingga menjadi identitas keislaman yang tampak kaya, canggih, menenteramkan dan mendamaikan jiwa dan lingkungan sosial.