Oleh Maryam Khoirun Nisa (Mahasiswa studi Sosiologi unusia.ac.id)

Beberapa hari yang lalu kota Tangerang  menangis darah. Pada pukul 09.00 Wib terdengar bunyi ledakan yang datang dari sebuah pabrik petasan. Sekitar 100 orang terjebak didalam pabrikAparat kepolisian telah berusaha membuka gerbang pabrik tersebut. Namun api telah terlebih dahulu melahap sebagian pintu gerbang utama pabrik. Akhirnya polisi berinisiatif membuat lubang di bagian dinding pabrik. Beberapa orang berhasil diselamatkan. Namun ada beberapa orang meninggal dunia karena terjebak di dalam pabrik. Masyarakat diselimuti rasa haru.

Polisi masih mencari tahu penyebab kebakaran pabrik. Barang bukti penyebab kebakaran hebat itu masih dalam penyelidikan. Hanya saja meskipun polisi masih belum menemukan bukti,  warga masyarakat menyaksikan beberapa fakta. Seperti, pabrik yang sebesar itu hanya memiliki satu pintu utama. Fakta lain, para karyawan tidak memakai pakaian khusus saat  bekerja. Bahkan ditemukan  seorang pekerja yang masih dibawah umur hanya karena ingin membeli handphone. Temuan lain yang tidak kalah urgentnya, Firman (16), karyawan yang berasal dari Cililin, Bandung, mengaku ditawari bekerja tanpa harus membuat lamaran kerja karena usianya baru 16 tahun, hanya dimintai KTP (tribunnews, 2017).

Kasus diatas mengindikasikan adanya pengabaian pemilik pabrik terhadap regulasi pemerintah, terutama tentang ketenagakerjaan. Misbachul, mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Jakarta mengatakan bahwa jika benar temuan masyarakat tersebut, kasus ini potret pelanggaran regulasi yang berakibat para pekerja menjalankan tugas yang diluar batas kemanusiaan dan berbahaya. “Meminjam analisa Doyle Paul Johnson dalam kajian Karl Marx, kunci untuk memahami kenyataan sosial memang tidak ditemukan dalam ide-ide abstrak tetapi dalam pabrik-pabrik. Mereka itu bekerja untuk menghindarkan diri dari mati kelaparan, padahal mereka tidak mampu menjual tenaganya di pasaran.” Kata Misbachul.  

Sedangkan Merry, seorang aktivis sosial punya analisa lain. Menurutnya kasus diatas karena ada pengusaha  bertindak atas dasar kepentingan diri sendiri. Ia menggarap kepentingan diri sendiri dengan memanfaatkan orang lain. Jadi pengusaha itu tergantung pada buruh. Kasus diatasmenunjukkan bahwa kelas-kelas sosial itu masih ada di Indonesia. Pengusaha dengan sesuka hati mempekerjakan kaum buruh tanpa mempertimbangkan bahaya yangkemungkinan menimpa para pekerja. “Inilah yang dimaksud Hegel dengan ‘sistem keperluan-keperluan’,” ucap  Merry

Kasus diatas sebaiknya tidak boleh terjadi lagi. Solusinya, pengusaha dan pekerja harus membentuk jaringan komunikasi untuk kepentingan bersama. Komunikasi yang intens akan menghilangkan permusuhan. Masyarakat modern mengenalnya dengan ‘organisasi’. Problem pekerja seperti, upah, perbaikan kondisi kerja, dan sebagainya bisa diselesaikan melalui organisasi. Pada akhirnya organisasi kelas buruh akan menjadi cukup kuat. “Organisasi buruh yang kuat dalam kontek ini untuk kepentingan bersama. Berbeda dengan pemikiran Karl Marx bahwa organisasi buruh yang kuat untuk menghancurkan seluruh struktur sosial kapitalis.” imbuh Luthfy yang saat ini sedang fokus mengkaji teori Sosiologi.