Beberapa hari lalu di kota Damansara Malaysia terjadi pertemuan ratusan alumni santri Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Mereka datang dari berbagai penjuru kota hingga radius 300 km. dari lokasi pertemuan. Dua orang utusan dari Sidogiri hadir sebagai narasumber, yaitu KH Abdul Adhim Kholili yang populer dipanggil Mas Abduh; dan Ustadz Syamsul Arifin Abu. Materi pertemuan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu kuliah umum, kajian kitab kuning dan dialog keislaman.

Sebelum pertemuan berlangsung, ramah tamah dan saling sapa tampak di sana-sini. Keakraban mencuat saat mendengarkan perbincangan mereka tentang kesehatan, aktifitas, keluarga dan lainnya.
“Kamu kelihatan kurusan, sekarang? Kata seseorang menyapa temannya. Senyum pun mengembang diantara mereka.

Di sayap kanan terdengar juga perbincangan yang berapi-api.
“Anakku yang pertama, kedua, ketiga gak ada yang mau mondok, minta kuliah semua. Tapi yang keempat mau mondok, sekarang di Sidogiri.” Katanya sambil terkekeh bahagia.

Pada kalimat pembuka, Mas Abduh menjelaskan tentang esensi ‘Pengajian Kitab Sidogiri’. Mas Abduh menekankan pentingnya merawat hubungan kiai-santri agar doa kiai kepada santri terus memberkahi.
“Kiai Cholil pernah berkata, disetiap waktu dan tempat yang istijabah, saya mendoakan santriku secara umum, lalu kuselipkan doa untuk santriku tertentu yang kuingat, yang sering muncul kepadaku, karena itu selalu kirimkan surah alfatihah untuk masyayikh Sidogiri.” Ungkap Mas Abduh sambil tersenyum sambil pandangannya menyapu audiens.

Mas Abduh memberikan materi dengan gaya yang santai penuh keakraban. Penyampaiannya renyah, tutur bahasanya sederhana meskipun materi yang disampaikan tergolong rumit.
“Saat saya mau berangkat kesini, Mas Nawawy Sadoellah berpesan agar saya mengingatkan kalian untuk menjaga salat lima waktu.” Kata Mas Abduh sambil tersenyum. Sontak audiens¬†hening merasa mendapatkan perhatian.

Mas Abduh secara apik menyampaikan tiga perspektif dalam satu tarikan pitutur yaitu harmoni relasi kiai-santri, teks kitab kuning dan konteks masyarakat perantauan. Saat konteks menanyakan tentang kekhusyu’an salat misalnya, Mas Abduh menjelaskan tentang teks ‘niat salat’ dan memungkasinya dengan nasehat, “Kiai Hasani pernah mengatakan kepada saya bahwa salat kita ini masih level kebiasaan, biasa salat, atau salat karena biasa.” Katanya sambil tersenyum.

Audiens juga mendiskusikan perkembangan kekinian teknologi informasi yang sering mengekspose materi keislaman. Diantaranya peragaan tentang berwudhu dengan air yang sangat terbatas. Mas Abduh pun secara komprehensif menjelaskan teks tentang wudhu, praktik sekaligus korelasinya dengan peragaan yang terdapat di media sosial tersebut.
“Islam itu memudahkan hanya terkadang kita yang sering mempersulit diri,” kata Mas Abduh dengan ramah.

Mas Abduh pun mengakhiri kalimatnya dengan pesan yang sangat mendalam.
“Berkhidmah pada Masyayikh dan Sidogiri tanpa mengenal medan, walau sampai ke negeri jiran, semoga manfaat, berkah dan berpahala. Ini salah satu bentuk kecintaan para masyayikh kepada kita. Semoga kita dapat menghadiri pengajian IASS secara istiqomah.”