oleh Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi Unusia.ac.id)

Sore itu suasana resto di pinggir pantai kota Balikpapan cukup ramai. Berderet mobil memenuhi area parkir deretan resto yang berada di bilangan Ruko Bandar. Balikpapan memang kota cantik yang sudah lama menyedot para bisnisman dan profesional untuk berkarir disana. Kekayaan alam yang membutuhkan teknologi, spesifikasi keilmuan dan profesionalitas adalah penyebabnya. Balikpapan daerah favorit bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang mining maupun oil and gas.

Beberapa perusahaan multinasional diantaranya Chevron, Atlas Copco, All Rig, Baker Hughes dan lainnya. Magnet Balikpapan pun mampu mendatangkan para ekspatriat yang berkarir di Balikpapan. Pemandangan yang menggembirakan yang surah lama terjadi sekaligus tantangan bagi generasi muda untuk meningkatkan kapasitasnya. Karena itu seseorang yang mampu unggul berkompetisi di sektor high technology di Balikpapan secara otomatis mampu survive di dunia internasional.

Balikpapan dan kota-kota lain yang menarik kaum ekspatriat profesional tentu perlu dicermati seberapa jauh tingkat kegunaannya. Pemerintah tentu sudah diuntungkan dari sisi penerimaan negara. Kegunaan lainnya yang perlu dicermati itu seberapa jauh perusahaan internasional tersebut dirasakan kegunaannya oleh generasi muda terutama disektor alih teknologi, transfer knowledge dan kultur profesionalitas kerja. Bidang teknologi misalnya, harus mampu dikuasai dan melahirkan inovasi baru, tidak hanya bisa mengoperasikannya.

Balikpapan dan kota-kota kaya mining, oil dan gas menampilkan corak kota yang digambarkan Furnivall sebagai masyarakat Majemuk. Kehadiran kaum ekspatriat pada akhirnya memunculkan pula sebuah kawasan khusus yang didasarkan pada diferensiasi sosial. Tak jauh dari Ruko Bandar terdapat kawasan yang disukai kaum ekspatriat untuk dijadikan tempat beraktifitas sehari-hari. Tak bisa dihindari munculnya kelompok ‘mapan’ dan kelompok ‘orang luar’ (Elias dan Scotson, 1965).

Di tengah industrialisasi yang berjalan cukup kencang, perlu ada langkah berani kaum pekerja lokal untuk meningkatkan grade kapasitasnya. Saya menyebutnya dengan, dari kelas pekerja profesional menuju kelas pekerja produksi. Kelas pekerja profesional dalam konteks ini melengkapi diri dengan berbagai sertifikat keahlian. Sedangkan kelas pekerja produksi adalah kemampuan diri dari penguasaan sistem kerja hingga inovasi.

Di kota-kota industri, telah jamak terjadi aksi saling ‘bajak’ antarkorporat untuk mendapatkan tenaga kerja profesional dan tenaga kerja produksi. Pemilik modal tidak lagi menjadi penentu produksi. Ia masih bergantung kepada tenaga kerja profesional dan tenaga kerja produksi. Di Surabaya misalnya, sebuah perusahaan industri food tidak bisa sesuka hati menentukan berapa ton ikan Udang yang akan ia ekspor ke Eropa. Dia bergantung pada hasil pemilahan yang dilakukan seorang pekerja produksi.  Di Balikpapan, tenaga kerja yang mempunyai sertifikat keahlian menjadi rebutan perusahaan multinasional dengan bargaining gaji tinggi. Di Jakarta juga tidak jauh beda, seorang pekerja produksi berani bernegosiasi dengan pihak korporat, “berapa Anda akan menggaji saya setiap bulan?” Jika tidak sesuai dengan permintaannya, dia menolak karena tawaran dari korporat lain telah menunggu.

Analisa Karl Marx dalam konteks keindonesiaan saat ini mulai terbantahkan. Kelas pemodal tidak lagi segala-galanya bagi kelas pekerja profesional dan pekerja produksi. Maka Pemerintah perlu makin mempercepat proses ‘naik kelas’ bagi pekerja, dari buruh yang hanya mengandalkan tenaga dan nalar yang terbatas, menuju kelas pekerja yang profesional dan pekerja produksi. Contoh, beberapa waktu lalu sebuah Perusahaan jasa terkemuka merekrut 70 mahasiswa lulusan terbaik dari berbagai universitas untuk dididik menjadi pekerja profesional dan pekerja produksi. Untuk menghindari aksi saling bajak antarkorporat, pihak perusahaan membuat perjanjian tertulis yang isinya tidak meninggalkan perusahaan saat telah menjadi pekerja profesional dan pekerja produksi. Saat alokasi dana pendidikan mampu dimaksimalkan tak diragukan lagi para pekerja muda itu mampu menaklukkan kotanya sendiri.