Gema aksi-aksi KAMI/KAPPI tak urung memaksa beberapa peserta dan simpatisan Muktamar dari kota-kota besar dan jauh membawa senjata. Tidak hanya itu, muktamirin dan simpatisan menampakkan sikap beringas dan nyaris anarkis. Saya pun turun tangan, sambil mengacungkan pistol, saya menggertak, “Kalian tenang apa tidak, kalau tidak mau, silahkan bubar. Juru masak yang kalian demo itu dari Muslimat NU. Orang yang kalian lempari itu mantan Ketua Umum IPNU, abang kalian.” Itulah lukisan ketegangan suasana pertengahan 1960-an yang juga melanda Muktamar IPNU di Surabaya.

Penulisan buku ini setidaknya didasarkan pada tiga alasan utama, pertama, untuk merekam secara sistematis, komunikatif, dan rinci mengenai perjalanan sejarah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) yang telah melahirkan cukup banyak tokoh nasional di Indonesia.

Kedua, untuk memotret aktivis IPNU di setiap periode yang telah bekerja keras membesarkan IPNU sekaligus berproses di IPNU.

Ketiga, memberikan bahan kepustakaan tentang sejarah kaum muda NU dalam kehidupan masyarakat. setidaknya buku ini akan memberikan perspektif baru membaca dinamika anak muda NU.

Buku ini memang cukup berhasil memotret dinamika IPNU, terutama sumbangsih IPNU dalam proses pendewasaan anak muda Indonesia. Terbukti beberapa anak muda yang berproses di IPNU menjadi tokoh nasional dalam berbagai aktifitas dan pilihan karir.