Muhammad Sulton Fatoni (Dosen Sosiologi di unusia.ac.id)

Tak lama setelah menjejakkan kaki di bandar Udara Kota Palu, kami berempat disambut anak muda yang ramah. Wajahnya yang sumringah mempersilahkan kami masuk mobilnya. Sepanjang perjalanan ia bercerita sekilas suasana kota Palu berikut kondisi sosial budayanya.

Saat memasuki satu jalan di sudut kota Palu, ia hentikan mobilnya di satu outlet sederhana. Outlet tersebut menjual kain motif batik khas Palu. Jika ada motif batik Parang dari Solo, batik Sido Asih dari Jogjakarta, dari Palu ini dikenal dengan nama ‘batik Bomba’. Kami pun diminta untuk mengukur baju dan memilih kain motif batik Bomba.

Anak muda tersebut bernama Adi Pitoyo, sosok yang getol mengembangkan batik Bomba di kota Palu. Jiwa enterpreneur yang dimilikinya mampu menghidupkan para pengrajin batik Bomba untuk berproduksi. Ia kembangkan motifnya, dikumpulkan dan dijajakan dari mulut kemulut hingga mengikuti event-event promosi. Kini batik Bomba cukup dikenal masyarakat dan sudah menjadi brand image kota Palu.

Kemunculan batik Bomba memberi kesan positif bagi kota Palu. Upaya mengangkat batik Bomba otomatis membangun citra kota Palu. Suatu citra memang seharusnya dibangun melalui berbagai media yang tersedia dan dilakukan secara simultan, baik melalui lambang, media atau visual, suasana, serta event (Kotler, 2001).

Keberadaan batik Bomba tentu menguntungkan kota Palu. Sebab tidak mudah menentukan suatu barang untuk dijadikan Brand image. Ia harus memiliki unsur keunggulan dan keunikan yang kompetitif. Pada batik Bomba, keunikan produk dapat ditemukan sehingga konsumen mendapatkan kesan khusus, minimal dari motif batik dan proses produksi yang mengandalkan imaginasi dan tangan terampil manusia.

Batik Bomba memang telah berhasil meyakinkan konsumen bahwa ia bagian dari brand image kota Palu. Tahapan selanjutnya adalah menguatkan keyakinan tersebut hingga menjadi persepsi dalam pikiran manusia. Karena itu yang dibutuhkan saat ini adalah perangkat sistematis sebuah brand image.

Saya menawarkan gagasan pengelolaan brand image suatu kota dengan pendekatan perpaduan ‘new museology’ dan museografi. Karena bersifat sosial dan kepentingan kota maka Pemerintah kota Palu yang melakukannya. Konsep new museology-museografi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal sebuah brand image kota tertentu secara komprehensif. Spirit edukatif pun kental terasa sehingga secara otomatis konsep ini melahirkan destinasi wisata edukasi.

Palu, 25 Desember 2017