Oleh Alamsyah M. Djafar (Peneliti Sosial Budaya)

“Di mana Mbak Yenny belajar public speaking?” tanya seorang pejabat muda dari Kementerian Luar Negeri pada saya. “Dia pembicara yang baik. Artikulasinya baik, mudah dipahami, dan jelas,” katanya lagi.

Siang itu kami memang baru bertemu dengan pimpinan si pejabat muda ini dan Mbak Yenny. Usai kedua orang ini pergi ke tempat lain, kami turun untuk makan siang bersama di sebuah rumah makan tak jauh dari tempat pertemuan.

Dengan latar belakang sebagai diplomat, saya yakin pejabat muda ini pasti sudah makan bangku sekolahan untuk belajar ilmu diplomasi dan public speaking. Dia pasti mengerti level kerumitan sekaligus kelihaian seseorang dalam berdiplomasi dan bicara di depan umum.

Saya sendiri beranggapan, kadang bahasa diplomasi itu seperti omongan pembuka petugas asuransi. Samar diawal, tapi jelas di akhir.

Saya sering dengar diplomat atau tokoh-tokoh tertentu menggunakan kalimat ini: “kami memiliki beberapa catatan-catatan penting”. Padahal maksudnya mereka sedang protes atau kritik.

Menyebut “masalah” tapi dengan kata-kata : tantangan-tantangan. “Melakukan langkah-lanngkah berarti”, padahal maksudnya langkah keras.

“Mbak Yenny lulusan Harvard. Ia juga seorang jurnalis. Tapi, rasanya ia makin matang ketika banyak mendampingi Gus Dur sebagai presiden,” jawab saya kepada pejabat muda ini sok tahu.

Kekaguman semacam ini bukan kali ini saja saya dengar. Tak sedikit orang omong jika Mbak Yenny punya kemampuan berbicara yang baik. Beberapa orang menyebut Pidatonya di acara Hari Perdamaian di Madura bulan lalu sangat baik.

Tadi pagi, ketika bertemu Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen di Istiqlal, ia juga menunjukan kelihaiannya berbicara. Percakapannya dibuka dengan mengutip mantan Perdana Menteri Inggris David Cameron. “Di Indonesia muslim 200 juta orang, yang ingin berangkat ke Syiria lima ratus orang. Di Inggris muslimnya dua juta, yang ingin pergi lima ribu orang,” tandasnya. Perdana Menteri Denmark saya lihat mengangguk-angguk.

Kepada saya Mbak Yenny bilang, sengaja mengatakan itu agar orang-orang Denmark mengerti jika Indonesia tidak seperti yang diasumsikan: negara yang makin buruk terkait intoleransi. “Saya sengaja omong itu. Soalnya wartawan-wartawan Denmark tadi banyak tanya soal Indonesia yang dianggap makin intoleran, terutama pasca Pilkada Jakarta,” katanya. Saya jadi paham. Rupanya kalimat itu juga bahasa diplomasi yang tinggi.

Pilihan kata yang menarik yang ia lempar dalam pertemuan tadi, menurut saya adalah ini: “noisy majority”, mayoritas yang berisik. Kelompok-kelompok moderat yang tadinya silent, diam, sekarang mulai bersuara. “Saya percaya Indonesia masih bisa menjadi contoh negara muslim moderat terbesar di dunia.”

Manggarai-Depok